Ketua PC Muslimat NU Surabaya, Lilik Fadhillah saat memberikan sambutan sekaligus membuka acara pelatihan.
Surabaya, LINTAS NUSANTARA — Pimpinan Cabang Muslimat NU Surabaya menggelar pelatihan jurnalistik dan public speaking pada Sabtu, 11 April 2026, bertempat di Aula PC Muslimat NU Surabaya. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader dalam komunikasi publik serta publikasi kegiatan organisasi.
Kegiatan dibuka oleh Ketua PC Muslimat NU Surabaya, Lilik Fadhillah, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kemampuan komunikasi di era digital.
“Kegiatan Muslimat NU sangat banyak dan bermanfaat. Namun jika tidak didokumentasikan dan dipublikasikan dengan baik, maka dampaknya tidak akan maksimal. Di sinilah pentingnya kemampuan jurnalistik dan public speaking bagi kader,” ujarnya.
Ia juga mendorong para kader untuk aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah dan penyebaran informasi positif kepada masyarakat luas.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber praktisi komunikasi, Putjok Rizaldy, yang dikenal sebagai trainer dan keynote speaker serta memiliki pengalaman sebagai news presenter politik di Jawapos TV.
Dalam pemaparannya, Putjok menjelaskan bahwa public speaking merupakan seni berbicara di depan publik untuk menyampaikan gagasan secara lisan dengan tujuan tertentu.
Ia menyebutkan tiga tujuan utama public speaking, yakni persuasif, informatif, dan menghibur.
Peserta juga diajak memahami tantangan umum saat berbicara di depan umum, seperti rasa gugup dan kurang percaya diri.

Astrid Habibah, Salah satu narasumber dalam jurnalistik saat memberikan materi di pelatihan Sabtu (11/4)
Menurutnya, hal tersebut wajar dan dapat diatasi dengan latihan serta penguasaan materi.
“Penguasaan diri, penguasaan materi, dan penguasaan audiens menjadi tiga kunci utama dalam keberhasilan public speaking,” jelasnya.
Selain itu, materi juga menyoroti teknik vokal seperti penggunaan suara diafragma, pengaturan intonasi, serta artikulasi yang jelas agar pesan dapat tersampaikan dengan baik. Unsur non-verbal seperti senyuman, bahasa tubuh, dan kontak mata juga menjadi bagian penting dalam membangun koneksi dengan audiens.
Peserta pun diajak praktik langsung untuk melatih kepercayaan diri, dengan berbicara tentang hal yang disukai sebagai langkah awal mengasah kemampuan berbicara di depan publik.
Sementara dalam sesi jurnalistik, peserta dibekali pemahaman tentang teknik dasar penulisan berita, pemilihan informasi yang relevan, hingga penyusunan laporan kegiatan yang sistematis dan layak dipublikasikan di media massa maupun media sosial.
Melalui pelatihan ini, PC Muslimat NU Surabaya berharap para kader mampu menjadi komunikator yang efektif sekaligus aktif menyebarluaskan berbagai kegiatan dan nilai-nilai kebaikan organisasi kepada masyarakat.
“Semoga ini menjadi bekal bagi kader Muslimat NU untuk terus berdakwah secara luas, termasuk melalui media digital,” pungkas Lilik. (fit)

