Angka Kasus HIV di Jatim Tembus 7.129, DPRD Soroti Pergaulan Bebas dan Dampak Media Sosial

Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi Gerindra, Benjamin

SURABAYA, Nusantaradigital.online – Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi Gerindra, Benjamin, menyoroti tingginya kasus HIV di Jawa Timur yang telah mencapai 7.129 kasus. Menurutnya, peningkatan tersebut tidak bisa dilepaskan dari perubahan pola pergaulan masyarakat, khususnya generasi muda, yang dipengaruhi media sosial dan budaya digital.

Benjamin mengatakan, perkembangan internet dan media sosial telah membentuk gaya hidup baru yang kerap ditiru oleh anak-anak muda hingga ke pelosok desa. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi memicu perilaku seksual berisiko yang berujung pada peningkatan kasus HIV.

Sekarang media sosial sangat mudah diakses. Budaya yang ditampilkan di media kemudian ditiru oleh anak-anak muda, termasuk pola pergaulan yang bebas. Ini yang perlu menjadi perhatian bersama karena berpotensi meningkatkan risiko penularan HIV,” ujar Benjamin.Ia mengungkapkan, banyak kasus yang ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk pelajar yang baru lulus sekolah. Faktor pergaulan dan kurangnya edukasi kesehatan reproduksi dinilai menjadi salah satu penyebab tingginya angka penularan.

Selain itu, Benjamin menilai perubahan pola praktik prostitusi juga menjadi tantangan tersendiri bagi upaya pengendalian HIV. Jika sebelumnya aktivitas tersebut lebih terpusat dan mudah diawasi, kini penyebarannya semakin luas melalui berbagai platform digital maupun tempat hiburan yang sulit terkontrol.“Dulu ada mekanisme pengawasan kesehatan secara berkala. Sekarang aktivitasnya menyebar dan sulit dikontrol karena banyak berlangsung secara online maupun di berbagai tempat yang tersebar,” katanya.

Benjamin menjelaskan, pada masa lalu terdapat pemeriksaan kesehatan rutin bagi pekerja seks, seperti pemeriksaan pap smear, kesehatan reproduksi, hingga tes HIV secara berkala. Menurutnya, sistem pengawasan seperti itu kini jauh lebih sulit dilakukan karena aktivitas yang tersebar dan tidak terpusat.

Meski demikian, ia menekankan bahwa data kasus HIV yang ada saat ini belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya di masyarakat. Pasalnya, masih banyak daerah yang belum melakukan skrining secara masif sehingga potensi kasus yang belum terdeteksi masih cukup besar.

Yang terdata saat ini adalah kasus yang berhasil ditemukan. Karena itu, skrining dan deteksi dini harus terus diperluas sampai ke daerah-daerah agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” ujarnya.Benjamin juga mengajak masyarakat untuk tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Menurutnya, penderita HIV tetap harus mendapatkan pelayanan kesehatan dan perlakuan yang manusiawi.“Jangan sampai penderita HIV dianggap sebagai momok. Mereka tetap manusia yang harus dilayani dengan baik. Penularan HIV bisa terjadi pada siapa saja dan tidak selalu berkaitan dengan stigma yang selama ini berkembang di masyarakat,” tegasnya. (why)

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights