Sidoarjo, Nusantaradigital.online – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat potensi kekeringan tahun 2025 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada karena masih ada 815 desa yang terancam mengalami kekeringan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa kondisi cuaca saat ini masih cukup beragam. “Hingga hari ini masih ada beberapa wilayah di Jawa Timur yang mengalami hujan. Tiga kabupaten telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Siaga Darurat, yakni Kabupaten Bondowoso, Pasuruan, dan Jombang, sementara Sampang menetapkan status tanggap darurat,” ungkap Gatot saat ditemui di kantornya, Senin (4/8).

Selain itu, sejumlah daerah lain seperti Bangkalan dan Probolinggo juga mengalami dampak kekeringan, meski belum menetapkan status siaga darurat. Gatot berharap tren potensi kekeringan terus menurun dibandingkan tahun 2024. “Tahun lalu ada 819 desa yang berpotensi kekeringan, sekarang 815 desa. Untuk tingkat kecamatan masih 222 kecamatan, dan 26 kabupaten/kota masih sama seperti tahun lalu,” jelasnya.
Gatot menambahkan, beberapa daerah yang dinilai paling kritis di antaranya Lamongan, Sampang, dan Pacitan. “Wilayah-wilayah ini berdasarkan data sebelumnya punya potensi kekeringan yang cukup besar. Namun, kami terus berupaya agar dampaknya dapat diminimalkan,” katanya.
Ia juga menegaskan, Gubernur Jawa Timur telah memberikan dukungan penuh melalui berbagai langkah mitigasi, termasuk pengiriman bantuan air bersih, jerigen, tandon, dan terpal ke daerah terdampak. “Ibu Gubernur sangat tegas soal penanganan potensi kekeringan. Kami diperintahkan untuk segera bertindak di lapangan apabila situasinya mendesak,” ujarnya.
Meski BPBD Jatim aktif dalam penanganan saat darurat, Gatot menilai upaya jangka panjang perlu dilaksanakan oleh instansi teknis terkait.
“Selama ini BPBD hadir saat tanggap darurat atau kebutuhan mendesak. Untuk solusi jangka panjang, seperti pembangunan embung, perbaikan tanggul, atau irigasi, itu ranah instansi teknis. Kalau program-program itu berjalan, potensi kekeringan bahkan bisa ditekan jauh di bawah 800 desa,” tegas Gatot.
Ia berharap dengan adanya kolaborasi lintas sektor, ancaman kekeringan di Jawa Timur dapat semakin berkurang dari tahun ke tahun. “Kami optimis jika mitigasi jangka panjang dilaksanakan dengan konsisten, ancaman kekeringan akan semakin menurun,” pungkasnya. (why)

