EWS dan Partisipasi Masyarakat Jadi Kunci Mitigasi Bencana di Jawa Timur

Sidoarjo, Nusantaradigital.online – Bencana longsor yang menewaskan 10 orang di jalur wisata Cangar–Pacet, Kabupaten Mojokerto, menjadi peringatan penting akan urgensi sistem mitigasi bencana yang efektif. Peristiwa pada Kamis (3/4/2025) itu terjadi saat dua kendaraan—Innova dan GranMax—tertimbun material longsor dan jatuh ke jurang sedalam 100 meter.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menegaskan bahwa tragedi tersebut memperkuat urgensi pemasangan Early Warning System (EWS) di titik-titik rawan longsor di Jatim.

“Peristiwa di Pacet bukan hanya duka, tapi juga peringatan keras bagi kita semua. Karena itu, jalur Cangar–Pacet akan segera dipasangi EWS digital yang terkoneksi langsung ke pusat komando BPBD,” tegasnya.

 

Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jawa Timur, Dadang Iqwandy, menambahkan bahwa hingga Mei 2025, sebanyak 92 unit EWS telah terpasang di berbagai daerah rawan bencana di Jatim, termasuk di wilayah selatan seperti Trenggalek, Pacitan, Lumajang, dan Banyuwangi.

“Target kami tahun ini adalah menambah 50 unit EWS lagi, baik untuk longsor, banjir, maupun potensi tsunami. Kami prioritaskan kawasan dengan mobilitas tinggi dan kerentanan geografis seperti jalur wisata, lereng gunung, dan pesisir selatan,” ujar Dadang dalam wawancara pada Jumat (10/5).

Ia juga menyampaikan bahwa BPBD Jatim telah memetakan lebih dari 300 titik rawan longsor, di ana sebagian besar masih belum dilengkapi sistem peringatan dini. Oleh karena itu, keterlibatan pemerintah kabupaten/kota sangat dibutuhkan untuk mengusulkan dan merawat EWS di wilayahnya masing-masing.

 

Sistem EWS menggunakan sensor berbasis curah hujan, pergerakan tanah, dan getaran untuk mendeteksi potensi bencana, serta mengaktifkan sirine atau notifikasi jika ambang bahaya terlampaui. Namun, menurut Dadang, keberhasilan sistem ini sangat tergantung pada kesiapan dan pemahaman warga.

“EWS bukan hanya soal teknologi. Warga harus tahu arti bunyi sirine, tahu jalur evakuasi, dan tahu siapa yang harus dihubungi. Itu sebabnya kami dorong terus edukasi melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana),” jelasnya.

 

Sebagai tindak lanjut kejadian longsor Cangar–Pacet, BPBD bersama Dinas PU dan instansi terkait melakukan survei geoteknik dan evaluasi jalur wisata rawan longsor. Pemerintah juga mendorong daerah lain seperti Kota Batu dan Kabupaten Malang untuk mempercepat pengajuan dan pemasangan EWS tambahan.

“Kami juga akan pasang EWS mobile dan sensor sementara di jalur rawan sebagai langkah darurat sebelum sistem permanen dipasang,” tambah Dadang.

 

BPBD Jatim kini tengah mengembangkan aplikasi pemantauan bencana berbasis peta risiko dan jaringan EWS, yang bisa diakses publik dan terhubung ke sistem peringatan di tingkat provinsi hingga desa. (why)

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights