OPOP Jatim 2026 Digenjot, 1.410 Pesantrenpreneur Jadi Kekuatan Ekonomi Baru

Plt. Adminustrasi Umum, Jazuli (tengah) bersama dengan Kadiskop dan UKM Jatim (baju hitam kanan) Endy Alim Abdi Nusa saat Membuka Acara di Grand Mirama, Selasa (21/4). 

Rakor Eko-Tren OPOP di Surabaya perkuat peran pesantren dalam ekonomi syariah, libatkan ratusan peserta dan targetkan penambahan 200 pesantrenpreneur pada 2026.

Surabaya, Lintas Nusantara – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat pengembangan ekonomi berbasis pesantren melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan Eko-Tren One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur Tahun 2026 yang digelar pada 21–22 April 2026 di Grand Mercure Surabaya Mirama.

Gubernur Jawa Timur  melalui Plt. Administrasi Umum, Jazuli,  menegaskan, pesantren memiliki peran strategis dalam pengembangan ekonomi syariah nasional.

“Peluang pengembangan ekonomi syariah saat ini sangat besar dan harus dioptimalkan, termasuk melalui peran strategis pesantren,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.

Ia menyebut, Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dunia dalam The State of Global Islamic Economy Indicator (SGIE) 2024/2025. Selain itu, Indonesia juga berada di posisi pertama dunia pada sektor busana muslim serta posisi kedua pada sektor wisata ramah muslim, farmasi, dan kosmetik halal.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi peluang besar bagi Jawa Timur sebagai provinsi dengan jumlah pesantren terbesar untuk mengambil peran strategis, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Melalui program Eko-Tren OPOP, Pemprov Jatim mendorong penguatan ekonomi masyarakat berbasis pesantren. Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi pesantren, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah produk lokal, serta memperkuat daya saing usaha mikro dan kecil.

Berdasarkan data program, sejak 2019 hingga 2025 OPOP telah melahirkan sebanyak 1.410 pesantrenpreneur. Pada tahun 2026, jumlah tersebut ditargetkan bertambah 200 pesantrenpreneur baru.

Selain itu, pada pilar santripreneur, program ini telah membina sebanyak 634.637 santri, sementara pada pilar sosiopreneur telah terbentuk 1.790 sociopreneur dari kalangan alumni pesantren.

“Pesantren Berdaya, Masyarakat Sejahtera menjadi cita-cita yang terus didorong melalui penguatan pesantrenpreneur, santripreneur, dan sociopreneur,” lanjutnya.

Pengembangan OPOP juga dilakukan melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Dukungan datang dari berbagai pihak, antara lain Bank Indonesia, Bank Jatim Syariah, serta sejumlah perguruan tinggi seperti ITS, UNAIR, dan UNUSA.

Hingga saat ini, sebanyak 18 kabupaten/kota di Jawa Timur telah berkomitmen mendukung OPOP dengan membentuk tim di daerah masing-masing. Bahkan, model Eko-Tren OPOP Jawa Timur juga telah direplikasi oleh Provinsi Kalimantan Selatan.

Selain itu, penguatan OPOP juga sejalan dengan visi Jawa Timur sebagai “Gerbang Baru Nusantara”, di mana pesantren diharapkan mampu berperan dalam mencetak sumber daya manusia unggul sekaligus menjadi penggerak ekonomi berbasis masyarakat.

Rakor OPOP 2026 ini diikuti sebanyak 170 peserta secara luring yang terdiri dari 100 pesantren peserta tahun 2026, 10 peserta terbaik OPOP 2019–2025, serta tim penguatan OPOP Jawa Timur. Sementara itu, 100 pesantren lainnya mengikuti secara daring. (why)

 

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights