Talk Show Optimalisasi Ziswaf Meriahkan Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa 2025

Surabaya, Nusantaradigital.online – Talk show bertajuk “Peran Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf (Ziswaf) dalam Pemberdayaan KUKM” sukses digelar di Ballroom Al-Marwah, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu (14/9). Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Festival Ekonomi Syariah Regional (FESyar) Jawa 2025 yang berlangsung pada 12–14 September 2025.

Mengusung tagline “Optimalisasi Ziswaf”, kegiatan ini diikuti 200 peserta yang terdiri dari pengurus dan anggota KSPPS/USPPS koperasi se-Jawa Timur serta unsur masyarakat umum. Talk show merupakan kolaborasi antara Bank Indonesia dan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Diskop dan UKM) Provinsi Jawa Timur.

Kepala Diskop dan UKM Provinsi Jawa Timur, Dr. Endy Alim Abdi Nusa, S.IP., M.M., menegaskan bahwa koperasi dan UMKM masih menjadi pilar utama perekonomian Jawa Timur. “Kontribusi koperasi dan UMKM terhadap PDRB Jawa Timur pada 2024 mencapai 60,08 persen. Angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun,” ujarnya.

Menurutnya, pemanfaatan dana umat melalui Ziswaf menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat permodalan dan pemberdayaan koperasi serta UMKM. Karena itu, sosialisasi dan literasi Ziswaf harus lebih digencarkan agar dana yang dihimpun dapat dikelola secara produktif.

Talk show ini menghadirkan narasumber utama, Prof. Dr. Ali Maschan Moesa (Ketua Baznas Jatim). Dalam materinya, Ali menegaskan bahwa zakat bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga ibadah sosial-ekonomi yang memiliki kekuatan besar dalam mengentaskan kemiskinan dan mengurangi ketimpangan.

“Zakat adalah ibadah maliyyah ijtima’iyyah. Para ulama sudah menfatwakan bolehnya zakat digunakan untuk kepentingan produktif. Ini menjadi lompatan kemajuan berbasis maqashid al-syariah,” jelas Ali Maschan Moesa.

Ia menambahkan, Baznas Jatim berkomitmen meningkatkan kualitas Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) melalui regulasi, peningkatan kapasitas, dan standar pengelolaan yang lebih profesional. Selain itu, perlu adanya pusat data zakat terpadu di Jawa Timur, serta sinergi zakat dengan pemerintah daerah dan Kanwil Kemenag.

Ali juga menekankan pentingnya manajemen pengelolaan zakat yang adaptif terhadap era Revolusi Industri 4.0. “Kesuksesan pengelolaan zakat sangat ditentukan oleh kualitas SDM, kepemimpinan, serta pemanfaatan teknologi. BAZNAS harus mampu mengintegrasikan intellectual capital, social capital, dan psychological capital secara efektif,” ungkapnya.

Selain Ali Maschan Moesa, hadir pula Dr. KH. Misbachul Munir dari Badan Wakaf Indonesia dan Imam Hambali, MSEI dari Lazismu Jatim yang berbagi perspektif terkait peran wakaf dan infaq dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Melalui forum ini, Diskop dan UKM Jatim berharap peserta dapat memahami prinsip-prinsip pengembangan Ziswaf dalam mendukung akselerasi keuangan syariah, memperkuat peran KUKM, serta mendorong implementasi Ziswaf pada sektor produktif.

“Dengan mengoptimalkan dana Ziswaf, kita tidak hanya membantu sektor sosial, tetapi juga menggerakkan sektor ekonomi agar lebih mandiri dan berdaya saing,” pungkas Endy. (why)

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights