Group Samroh Humairah Geulis turut menghadiri sekaligus mengisi rangkaian kegiatan Dzikir dan Doa bersama yang digelar di Masjid Muhammad Cheng Hoo, Jumat (1/5/2026).
Surabaya, Nusantaradigital.online —
Sore itu, suasana di Masjid Muhammad Cheng Hoo terasa berbeda. Langit Surabaya mulai meredup, sementara jamaah berdatangan dengan langkah tenang, membawa harapan untuk menemukan keteduhan dalam dzikir dan doa bersama.
Tepat pukul 16.30 WIB, lantunan sholawat mulai menggema. Group Samroh Humairah Geulis yang dipimpin Ustadzah Hadizah, S.Sos.I membuka acara dengan irama yang lembut namun penuh penjiwaan. Rebana yang ditabuh perlahan seakan mengetuk relung hati jamaah yang hadir.
“Sholawat ini bukan sekadar lantunan, tapi cara kita mengetuk hati agar lebih dekat dengan Rasulullah dan Allah SWT,” ujar Ustadzah Hadizah di sela-sela penampilan.
Suasana semakin hidup ketika memasuki waktu Maghrib. Usai sholat berjamaah, Sholawat Sakdunya kembali dilantunkan. Jamaah yang semula duduk mulai ikut bersenandung, beberapa tampak menengadahkan tangan, larut dalam irama yang syahdu.

Ahmad Hariyono Ong yang juga Ketua Takmir masjid memimpin dzikir dan doa bersama.
Ditengah rangkaian acara, Ahmad Hariyono Ong yang juga Ketua Takmir masjid memimpin dzikir dan doa bersama. Dengan suara yang tenang dan penuh penekanan makna, ia mengajak jamaah merenungkan pentingnya memperkuat keimanan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini juga menghadirkan penceramah M. Khozin Mustafid yang menyampaikan tausiyah penuh makna. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan bahwa kualitas keislaman tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari akhlak dan kepedulian sosial.
“Kesempurnaan Islam tidak hanya terlihat dari ibadah kita, tetapi juga dari bagaimana kita menjaga akhlak, memperbaiki diri, dan memberi manfaat bagi sesama,” ungkapnya di hadapan jamaah.
Malam semakin khusyuk saat memasuki waktu Isya. Jamaah tetap bertahan, bahkan semakin larut dalam suasana spiritual yang terbangun sejak sore.
Puncak acara terjadi saat prosesi mahallul qiyam. Seluruh jamaah berdiri, melantunkan sholawat dengan penuh penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak ada sekat antara pengisi acara dan jamaah—semuanya menyatu dalam satu irama, satu rasa.
“Di momen seperti ini, kita diingatkan bahwa kebersamaan dalam ibadah adalah kekuatan umat,” tambah Ahmad Hariyono Ong.
Kehadiran Group Samroh Humairah Geulis tidak hanya sebagai pengisi acara, tetapi juga sebagai pengarah suasana. Di bawah kendali Ustadzah Hadizah, setiap lantunan terasa terjaga—tidak berlebihan, namun cukup untuk menyentuh.
Malam itu, Cheng Hoo bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan batin—antara manusia dengan Tuhannya, antara kegelisahan dan ketenangan. (fit)


