Surabaya, Nusantaradigital.online – Sekretaris One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur, Mochammad Ghofirin, menegaskan komitmennya untuk mengakselerasi program pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren melalui penguatan program EKO-Tren OPOP di periode 2025-2030. Hal itu disampaikannya usai kembali dilantik oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam Rakor Pengembangan OPOP 2025 di Surabaya.
“Kami siap meningkatkan kuantitas dan kualitas. Target kami menambah seribu pondok pesantren lagi untuk diberdayakan hingga 2030,” ujar pria yang akrab disapa Gus Ghofirin.
Selama lima tahun terakhir, OPOP Jatim telah berhasil melampaui target awal yang ditetapkan, yaitu memberdayakan 1.210 pondok pesantren—melebihi target semula sebanyak 1.000 pesantren. Dengan target baru tersebut, total pondok pesantren binaan OPOP Jatim diproyeksikan mencapai 2.210 lembaga hingga akhir dekade ini.
Untuk mengoptimalkan pembinaan, OPOP Jatim akan mengimplementasikan strategi clustering yang membagi pesantren dalam tiga kategori pengembangan bisnis: start up, scale up, dan sell up.
“Clustering ini akan membantu kami memberikan pembinaan yang lebih tepat sasaran, tergantung dari level kesiapan bisnis pesantren,” jelas Gus Ghofirin.
Misalnya, pesantren yang baru merintis akan mendapatkan pelatihan dasar kewirausahaan, sementara pesantren yang sudah berada di tahap pengembangan atau ekspansi akan difokuskan pada penguatan pasar, akses keuangan, dan manajemen kelembagaan.
OPOP Jatim juga memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix—yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas, dan media.
“Kami akan terus lakukan rembuk nyekrup—diskusi bersama lintas sektor untuk menyusun langkah strategis bersama. Lima elemen pentahelix ini sudah dikukuhkan sebagai bagian dari Tim Penguatan OPOP Jatim,” kata Gus Ghofirin.
Lebih dari sekadar mencetak produk unggulan, Gus Ghofirin menegaskan bahwa pemberdayaan pesantren oleh OPOP bersifat berkelanjutan dan menyeluruh. “Bukan hanya fokus di satu tahun anggaran, tapi sampai produknya bagus, pasarnya stabil, SDM-nya mumpuni, dan lembaganya kokoh,” tegasnya.
Dengan langkah-langkah ini, OPOP Jatim diharapkan dapat menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi pesantren sekaligus mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar. “Bila pesantren kuat secara ekonomi, maka masyarakat pun akan ikut terdorong maju,” pungkas Gus Ghofirin. (why)
