Surabaya, Nusantaradigital.online — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi melepas keberangkatan 16 kepala keluarga (KK) transmigran asal Jawa Timur dalam program Transmigrasi Tahun 2025. Pelepasan digelar di Binaloka Adhikara, Kantor Gubernur Jawa Timur, Selasa (16/12), dan menjadi momentum penegasan arah baru transformasi transmigrasi nasional.
Dalam sambutannya, Khofifah menegaskan bahwa program transmigrasi masih sangat relevan sebagai instrumen pemerataan pembangunan, pengurangan kemiskinan, dan penurunan pengangguran, khususnya bagi daerah padat penduduk seperti Jawa Timur.

“Keberangkatan transmigran hari ini adalah langkah berani untuk menjemput masa depan. Di balik tantangan selalu ada peluang. Lahan yang menanti bukan sekadar tanah kosong, tetapi lembaran baru kehidupan,” tegas Khofifah.
Gubernur Khofifah menekankan bahwa transmigrasi saat ini telah mengalami transformasi mendasar melalui pendekatan 5T, yakni Trans Tuntas, Translok, Trans Karya Nusantara, Trans Patriot, dan Trans Gotong Royong. Menurutnya, kelima pilar tersebut saling menguatkan untuk membangun kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.
Khofifah juga menjelaskan bahwa terbatasnya kuota penempatan transmigran bukan menunjukkan minimnya perhatian pemerintah pusat, melainkan strategi membangun kawasan transmigrasi yang seimbang antara SDM lokal dan pendatang. Pada tahun 2025, secara nasional komposisi Translok mencapai 795 KK, sedangkan Trans Karya Nusantara hanya 95 KK.
“Yang kita kejar bukan sekadar jumlah, tetapi kualitas dan daya ungkit kawasan. Transmigran harus mampu memicu tumbuhnya ekonomi lokal dan menyerap tenaga kerja di wilayah sekitarnya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur Sigit Priyanto melaporkan bahwa 16 KK atau 55 jiwa transmigran Jatim akan ditempatkan di tiga lokasi, yakni Kabupaten Sidenreng Rappang (Sulawesi Selatan), Kabupaten Polewali Mandar (Sulawesi Barat), dan Kabupaten Halmahera Tengah (Maluku Utara).
Dalam arahannya kepada para transmigran, Khofifah berpesan agar seluruh peserta menjaga mental tangguh, etos kerja tinggi, serta semangat gotong royong sebagai identitas Jawa Timur.

“Bawalah nilai kerja keras, keuletan, dan solidaritas. Tunjukkan bahwa transmigran Jawa Timur adalah teladan—kreatif, berdaya, dan mampu menjaga nama baik daerah serta bangsa,” pesan Khofifah.
Ia berharap seluruh transmigran dapat berkiprah optimal sebagai pioner pembangunan dan agen perubahan di daerah penempatan, sekaligus menjadi representasi Jawa Timur yang tangguh, inklusif, dan kompetitif. (why)

