MJC Disnakertrans Jatim Cetak Talenta Live Shopping, Peserta Optimistis Dunia Digital Jadi Profesi Menjanjikan

Surabaya, Nusantaradigital.online – Perkembangan industri digital membuka peluang kerja baru bagi generasi muda, salah satunya melalui profesi host live shopping dan content creator. Melalui pelatihan Millennial Job Center (MJC), Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Timur membekali peserta dengan keterampilan pemasaran digital dan live shopping yang kini semakin dibutuhkan dunia usaha.

Bukan lagi soal cita-cita menjadi pegawai kantoran atau pekerja formal seperti generasi sebelumnya. Kini, profesi host live shopping, content creator, hingga afiliator mulai dilirik sebagai sumber penghasilan menjanjikan.

Pelatihan tersebut dibuka pada Selasa (20/5/2026) oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Timur Sigit Priyanto di Aston Sidoarjo City Hotel & Conference Center. Kegiatan berlangsung selama tiga hari dan dijadwalkan berakhir pada Kamis (22/5/2026).

Kelas live shopping yang dibawakan oleh praktisi digital Tika Sulistya menjadi salah satu materi yang diminati peserta. Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendapat teori, tetapi juga praktik langsung menjadi host live streaming menggunakan produk UMKM Jawa Timur.

Tika Sulistya menjelaskan, tren live shopping di platform seperti TikTok dan Shopee kini berkembang sangat cepat seiring meningkatnya aktivitas belanja online masyarakat.

“Hari ini hampir semua lini bisnis menggunakan live shopping untuk memasarkan produknya. Permintaannya besar sekali, tapi orang yang benar-benar mampu menjadi host profesional masih sedikit,” ujarnya.

Menurutnya, profesi host live shopping membutuhkan kemampuan komunikasi, rasa percaya diri, hingga strategi membangun interaksi dengan audiens agar penjualan produk meningkat.

“Host itu ujung tombak penjualan. Mental dan mindset harus kuat karena kita membawa energi untuk audiens,” katanya.

Salah satu peserta yang mengikuti pelatihan tersebut adalah Nihal, pemilik brand Wong Parfum. Ia mengaku mengikuti pelatihan untuk mengembangkan bisnis keluarga yang selama ini berjalan secara konvensional.

Ia menceritakan, bisnis parfum tersebut sebenarnya telah dirintis orang tuanya sejak lama, namun belum dikembangkan secara maksimal di era digital.

“Orang tua saya hanya menjalankan bisnis ini secukupnya. Sekarang saya ingin membawa brand ini berkembang lebih besar melalui dunia digital,” ujarnya.

Perempuan 23 tahun itu mengaku baru mulai terjun menjadi host live shopping kurang dari setahun dan masih belajar secara otodidak. Bahkan, ia baru menggunakan TikTok untuk membangun personal branding dan menjangkau pasar lebih luas.

“Awalnya saya sangat tertutup, akun juga private. Tapi ternyata sekarang dunia sudah berubah dan bisnis harus masuk ke digital,” tuturnya.

Ia juga mengaku sempat mengalami tekanan mental dan merasa tertinggal dibanding teman-teman seusianya. Namun, melalui pelatihan MJC, dirinya mulai menemukan lingkungan baru yang mendukung perkembangan karier digitalnya.

“Saya senang bisa ikut program gratis dari pemerintah ini karena bisa ketemu teman-teman yang satu frekuensi dan sama-sama sedang berjuang di dunia digital,” katanya.

Dalam mengembangkan bisnis parfumnya, Nihal memanfaatkan konsep visual dan storytelling saat live streaming untuk menggambarkan aroma parfum kepada penonton.

“Karena penonton tidak bisa mencium aromanya langsung, jadi harus divisualisasikan lewat narasi dan konsep. Misalnya aroma pegunungan atau suasana tertentu,” jelasnya.

Selain peserta yang sudah memiliki usaha, pelatihan tersebut juga diikuti pemula yang ingin mengembangkan kemampuan baru di bidang digital.

Salah satunya Ita, seorang content writer media yang tertarik memperluas keterampilan dari menulis menuju dunia konten digital dan live streaming.

“Awalnya saya kerja sebagai content writer. Tapi sekarang dunia digital berkembang sangat cepat dan live streaming lagi tren banget, jadi saya ingin belajar skill baru,” ujarnya.

Menurut Ita, proses seleksi untuk mengikuti program MJC cukup ketat. Ia bahkan baru diterima setelah sebelumnya gagal pada batch pertama.

“Yang diterima cuma sekitar 50 orang, jadi persaingannya cukup ketat,” katanya.

Ia menilai pelatihan tersebut membuka wawasan baru bahwa live streaming bukan hanya untuk jualan, tetapi juga bisa dimanfaatkan membangun personal branding hingga memperluas peluang karier kreatif.

“Kalau menulis kan bisa dipikir lama, sedangkan live streaming harus cepat dan spontan. Itu tantangan baru yang menarik buat saya,” tambahnya.

Melalui program ini, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Timur berharap lahir talenta-talenta digital baru yang mampu bersaing di industri kreatif dan ekonomi digital yang terus berkembang di Jawa Timur. (why)

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights