Pemprov Jatim Gelar Pameran Peralatan Bencana, Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

Pasuruan, Nusantaradigital.online – Upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana kembali terlihat nyata melalui kegiatan Gelar Peralatan Penanggulangan Bencana 2025. Acara ini diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim di Kebun Raya Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, pada Senin (21/7), dan melibatkan berbagai unsur penting dalam penanggulangan bencana.

Dihadiri oleh perwakilan dari BPBD 37 kabupaten/kota, unsur TNI-Polri, relawan, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat umum, kegiatan ini menjadi panggung kolaborasi multipihak. Masing-masing daerah menampilkan kesiapan alat dan personel, lengkap dengan simulasi penanganan darurat—mulai dari banjir, gempa, hingga kebakaran hutan.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana adalah agenda pembangunan berkelanjutan yang harus melibatkan semua pihak. “Kita hidup di era krisis iklim dan tantangan kemanusiaan global. Karena itu, penting bagi kita untuk bergerak bersama dalam semangat mitigasi dan kesiapsiagaan,” ujar Emil.

Ia merujuk pada Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030, kerangka kerja internasional yang menekankan pentingnya pemahaman risiko, tata kelola yang kuat, investasi dalam pengurangan risiko, dan kesiapsiagaan yang tangguh. Prinsip-prinsip tersebut telah diterapkan melalui Rencana Induk Penanggulangan Bencana (RIPB) Jatim 2020–2044.

Acara yang mengangkat tema “Sinergi Penanggulangan Bencana Wujudkan Jawa Timur Menuju Gerbang Baru Nusantara” ini juga menjadi ajang untuk meneguhkan peran strategis Jatim sebagai provinsi penyangga dalam transisi Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur.

 

“Kegiatan ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia menjadi refleksi sejauh mana kesiapan kita—bukan hanya alat, tetapi juga pola pikir, koordinasi, dan respons lintas sektor,” tambah Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto. Menurutnya, membangun kesadaran kolektif dan kapasitas relawan secara merata di seluruh wilayah menjadi kunci dalam menghadapi bencana yang kian kompleks.

 

Tenda-tenda pameran dari berbagai daerah menjadi bukti konkret kesiapan lokal. Peralatan deteksi dini, perahu evakuasi, sistem komunikasi darurat, hingga alat berat dihadirkan. Bahkan, beberapa daerah juga memamerkan inovasi teknologi berbasis digital untuk mempercepat respons lapangan.

 

Lebih dari sekadar unjuk alat, kegiatan ini juga mempererat jaringan kerja antarwilayah. Dalam kondisi darurat, kekuatan kolaboratif menjadi penentu efektivitas penanganan bencana, terutama di daerah dengan keterbatasan sumber daya.

 

Di akhir sambutannya, Emil mengajak semua pihak untuk terus menjaga semangat gotong royong dan menjadikan keselamatan warga sebagai prioritas utama. “Mari kita jadikan Jawa Timur sebagai model provinsi yang siap, tangguh, dan adaptif menghadapi masa depan. Keselamatan rakyat adalah amanat tertinggi,” tegasnya.

 

Dengan semangat tersebut, gelar peralatan ini bukan hanya simbol komitmen, tetapi juga wujud nyata resiliensi Jatim—dari pesisir hingga lereng gunung. (why)

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights