Mojokerto, Nusantaradigital.online – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur kembali menggelar kegiatan penguatan kapasitas unsur penthahelix, khususnya bagi kalangan media massa di Jawa Timur.
Melalui acara bertajuk “Pencegahan dan Mitigasi Bencana bersama Pokja Wartawan”, kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Selasa–Rabu (29–30/7), di kawasan Pemandian Air Panas Cangar, Kabupaten Mojokerto. Puluhan wartawan Pemprov Jatim yang tergabung dalam Pokja Grahadi dan Pokja Indrapura turut ambil bagian dalam Camping Wartawan yang dibuka langsung oleh Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto.
Selain sosialisasi dan penguatan kolaborasi, kegiatan ini juga diwarnai sejumlah aksi nyata. Di antaranya, penyerahan santunan kepada anak yatim di Yayasan LKSA Insan Cita Elang Rahmatullah (Incerah) Mojosari sebagai refleksi peringatan Hari Anak Nasional (HAN), serta penanaman 100 bibit pohon produktif di kawasan pendakian Gunung Lorokan, Mojokerto. Para peserta juga diajak mendaki hingga ke puncak Gunung Lorokan dengan ketinggian 1.100 MDPL.
Dalam sesi sosialisasi, BPBD Jatim menghadirkan tiga narasumber berkompeten, yakni Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno (Akademisi Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta), Sri Wahyuni (Founder Banyu Bening Yogyakarta), dan Bahana Patria Gupta (Fotografer senior Kompas.id).

Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa kegiatan kolaborasi dengan jurnalis ini sudah memasuki tahun ketiga dan menjadi gelaran keempat.
“Kami berharap kegiatan ini bisa memperkuat pemahaman kebencanaan bagi para wartawan, sehingga mereka mampu menyampaikan informasi yang tepat dan akurat kepada masyarakat,” ungkap Gatot yang didampingi Plt. Kabid PK BPBD, Dadang Iqwandy.
“Kedepan, sinergi antara Pemprov Jatim dan media harus semakin solid, terutama dalam penanganan bencana, agar informasi yang disajikan benar-benar menjadi acuan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Pokja Wartawan Grahadi, Fatimatuz Zahroh, memberikan apresiasi atas konsistensi BPBD Jatim dalam menyelenggarakan kegiatan ini.
“Dari tahun ke tahun, materi yang disajikan semakin berkembang. Saya optimistis, dengan pembekalan ini, jurnalis akan semakin tangguh dalam meliput peristiwa bencana di Jawa Timur,” ujarnya. (why)

