Surabaya, Nusantaradigital.online – Upaya membangun ketangguhan masyarakat di Jawa Timur tidak hanya difokuskan pada desa, kelurahan, maupun satuan pendidikan formal seperti sekolah KB-TK hingga SMA. Kini, sarana pendidikan berbasis pesantren pun menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui program Pesantren Tangguh Bencana (Pestana).

Langkah ini sejalan dengan posisi Jawa Timur sebagai provinsi dengan jumlah pondok pesantren terbanyak di Indonesia, yakni sekitar 7.347 unit pesantren yang tersebar di 38 kabupaten/kota. Dengan jumlah sebesar itu, pesantren dinilai memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap bencana di kalangan masyarakat pesantren dan sekitarnya.
Sebagai tindak lanjut dari program tersebut, Pemprov Jatim bersama BPBD Jatim, BNPB, Dinas Sosial Jatim, serta perwakilan pondok pesantren menggelar Rapat Koordinasi Tindak Lanjut (RTL) Pesantren Tangguh Bencana (Pestana) di Ruang Hayam Wuruk, Kantor Gubernur Jatim.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Biro Kesra Pemprov Jatim, Imam Hidayat, dan menghadirkan Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto sebagai salah satu narasumber utama.
Dalam paparannya, Gatot Soebroto menyampaikan bahwa Jawa Timur merupakan wilayah dengan beragam potensi bencana, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga kebakaran, termasuk beberapa kejadian bencana yang pernah terjadi di lingkungan pondok pesantren.
“Dari potensi dan kejadian bencana tersebut, penting untuk meningkatkan kapasitas kebencanaan di pesantren melalui kegiatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Program ini bertujuan mengenalkan seluruh warga pesantren terhadap potensi bencana di wilayahnya serta cara penanggulangannya,” ujar Gatot.
Ia juga menyoroti pentingnya kesadaran lingkungan dan kesiapsiagaan individu dalam menghadapi situasi darurat.
“Saat kejadian di Ponpes Al-Khoziny, mayoritas korban ditemukan di dekat pintu keluar. Artinya, masyarakat harus tanggap bencana, mengenali lingkungan sekitar, dan memahami jalur evakuasi,” tegasnya.
Gatot mencontohkan keunggulan Jepang dalam membangun ketangguhan masyarakat terhadap bencana.
“Keunggulan Jepang karena pengenalan bencana sudah dilakukan sejak dini kepada anak-anak. Jadi ketika pemerintah memberikan peringatan siaga, masyarakatnya langsung siap,” ungkapnya.
Ia pun mengapresiasi langkah Biro Kesra Pemprov Jatim yang berinisiatif membangun ketangguhan pesantren melalui kegiatan ini. “Ini langkah nyata untuk menjadikan pesantren tidak hanya sebagai pusat pendidikan keagamaan, tapi juga pusat edukasi kebencanaan,” tambah Gatot.
Selain Kalaksa BPBD Jatim, hadir pula sebagai narasumber perwakilan BNPB, Dinas Sosial Jatim, Kementerian Agama Jatim, serta Jaringan Santri Nasional.
Dalam forum tersebut, peserta RTL Pestana Jatim juga menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, di antaranya:
- Perlunya diterbitkan Surat Edaran (SE) Gubernur Jatim tentang Pengurangan Risiko Bencana di lingkungan pesantren.
- Perlunya SK Bupati/Walikota tentang pembentukan Tim Pestana di daerah.
- Perlunya dibentuk Tim Pestana di setiap pesantren dengan program pencegahan dan edukasi bencana.
- Pembentukan Forum Pestana Jawa Timur sebagai wadah koordinasi dan sinergi antarpesantren dalam bidang kebencanaan. (why)
