Mojokerto, Nusantaradigital.online – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA), Palang Merah Indonesia (PMI), dan Yayasan Cita Wadah Swadaya (YCWS) menggelar Sharing Session Monitoring dan Evaluasi Rencana Induk Penanggulangan Bencana (RIPB) 2020–2044 serta Rencana Nasional (Renas) Penanggulangan Bencana di Pendopo Sabha Mandala Tama, Kabupaten Mojokerto, Rabu (1/10/2025).

Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana BNPB, Nadhirah Seha Nur, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2025 yang digelar di Jawa Timur pada 1–3 Oktober 2025.
“Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan rutin, tetapi momentum untuk memastikan strategi penanggulangan bencana benar-benar berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. RIPB 2020–2044 adalah peta jalan kita bersama, sehingga evaluasi dan sinergi multipihak menjadi sangat penting,” ujarnya.
Acara dikemas dalam format sharing session yang melibatkan berbagai unsur. Hadir perwakilan pemerintah pusat dan daerah, organisasi internasional, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, hingga mitra masyarakat sipil.
Diskusi multipihak ini menyoroti lima isu utama, yakni implementasi Cash and Voucher Assistance (CVA) PMI di Mojokerto, perjalanan kolaborasi Japan Red Cross Society (JRCS)–PMI sejak Tsunami Aceh 2004, pemanfaatan Monitoring and Evaluation Tool RIPB 2020–2044, strategi ketangguhan komunitas melalui YCWS, serta kontribusi PMI dalam program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
BNPB berharap kegiatan ini dapat memperkuat sinergi lintas sektor, meningkatkan partisipasi komunitas, serta memastikan pengurangan risiko bencana menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan.
“PRB dan kesiapsiagaan adalah gaya hidup. Kita ingin masyarakat semakin sadar bahwa bencana bukan hanya urusan pemerintah, melainkan tanggung jawab kita semua,” tutur Nadhirah. (why)
