Akademisi Universitas Airlangga, Prof. Rahma Gahmi
Surabaya, Nusantaradigital.online – Program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang diinisiasi Kementerian Transmigrasi dinilai memiliki nilai strategis dalam mendekatkan dunia akademik dengan persoalan pembangunan di kawasan transmigrasi. Keterlibatan mahasiswa, alumni, peneliti, dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi dinilai dapat mendorong pengembangan kawasan berbasis riset dan kebutuhan masyarakat.
Akademisi Universitas Airlangga, Prof. Rahma Gahmi, mengatakan TEP tidak sekadar menjadi program penugasan generasi muda ke berbagai kawasan transmigrasi. Lebih dari itu, program tersebut dapat menjadi wadah penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan langsung peserta di lapangan dapat menjembatani pengetahuan yang diperoleh di lingkungan akademik dengan berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat.
“Program ini menjembatani kesenjangan antara teori akademik yang diperoleh di ruang kuliah dengan realitas sosial ekonomi di lapangan. Mahasiswa didorong menggunakan kerangka berpikir ilmiah untuk memecahkan masalah riil,” ujar Prof. Rahma.
Ia menilai kawasan transmigrasi dapat dimanfaatkan sebagai living laboratory bagi perguruan tinggi. Dengan terjun langsung ke lapangan, peserta dapat memahami karakteristik wilayah sekaligus mengembangkan solusi berdasarkan kondisi dan potensi masing-masing kawasan.
Dari sisi peserta, TEP juga memberikan ruang untuk meningkatkan berbagai kompetensi. Selain kemampuan riset dan analisis kebijakan, peserta dituntut mampu berpikir kritis, menyusun strategi intervensi sosial, serta beradaptasi dengan masyarakat dan kondisi sosial budaya di wilayah penugasan.
“Interaksi langsung dengan masyarakat lokal maupun antar-etnis di wilayah penugasan melatih kepemimpinan, adaptasi sosial, serta komunikasi partisipatif,” katanya.
Prof. Rahma menambahkan, kontribusi peserta juga dapat diwujudkan melalui riset berbasis bukti atau evidence-based policy. Pemetaan potensi kawasan, komoditas unggulan, persoalan kesehatan, hingga tata kelola kelembagaan dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan pembangunan.
Menurutnya, hasil riset yang dilakukan di lapangan dapat membantu pemerintah pusat maupun daerah dalam menentukan arah pengembangan kawasan transmigrasi secara lebih tepat. Termasuk dalam mendorong revitalisasi kawasan, pengembangan sentra ekonomi baru, hingga hilirisasi produk lokal.
“Riset berbasis bukti dapat menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam menentukan arah pengembangan kawasan, termasuk revitalisasi, hilirisasi, serta pembukaan sentra pertumbuhan ekonomi baru,” jelasnya.
Potensi yang dapat dikembangkan, lanjut Prof. Rahma, tidak hanya sektor pertanian dan perkebunan. Kawasan transmigrasi juga memiliki peluang pengembangan sektor kelautan dan perikanan, kesehatan masyarakat, serta berbagai sektor ekonomi lainnya sesuai karakteristik wilayah.
Ia melihat keberadaan peserta TEP di lapangan juga dapat membantu masyarakat mengidentifikasi persoalan sekaligus merumuskan solusi melalui pendampingan, diskusi kelompok, dan wawancara mendalam.
Dalam jangka panjang, hasil pemetaan tersebut diharapkan dapat membuka peluang pengembangan investasi dan penciptaan lapangan kerja baru. Produk lokal yang memiliki potensi juga dapat diarahkan menuju proses hilirisasi sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Program ini mentransformasikan kawasan transmigrasi menjadi laboratorium riset terapan nasional. Keterlibatan kampus-kampus besar mendekatkan dunia akademis dengan realitas pembangunan di akar rumput,” pungkas Prof. Rahma.(why)

