Foto: Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga, Prof. Dr. Wasiaturrahma, S.E., M.Si.,(kanan)
Surabaya, Nusantaradigital.online – Perekonomian Jawa Timur tumbuh 5,72 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2026. Secara kumulatif, ekonomi Jawa Timur pada semester I 2026 tumbuh 5,84 persen (c-to-c), menjadi pertumbuhan tertinggi di Pulau Jawa.
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat, secara triwulanan ekonomi Jatim pada triwulan II 2026 tumbuh 2,85 persen dibandingkan triwulan I 2026 (q-to-q). PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp930 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp538,59 triliun.
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi secara tahunan terjadi pada Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas yang tumbuh 16,86 persen. Berikutnya Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 10,99 persen, Konstruksi 8,41 persen, serta Informasi dan Komunikasi 7,44 persen.
Sementara itu, Industri Pengolahan yang menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap struktur ekonomi Jawa Timur tumbuh 6,05 persen secara tahunan. Perdagangan Besar dan Eceran serta Reparasi Mobil dan Sepeda Motor tumbuh 6,40 persen.
Dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 19,35 persen. Selanjutnya Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 8,86 persen, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 5,59 persen, dan Ekspor Barang dan Jasa 5,37 persen.
Meski menunjukkan kinerja positif, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga, Prof. Dr. Wasiaturrahma, S.E., M.Si., mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi makro tidak otomatis menggambarkan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, PDB maupun PDRB merupakan indikator agregat yang mengukur total aktivitas ekonomi. Karena itu, peningkatan pertumbuhan ekonomi dapat terjadi bersamaan dengan masih adanya tekanan ekonomi yang dirasakan kelompok masyarakat tertentu.
“Kesan kontradiksi antara angka pertumbuhan ekonomi dengan persepsi riil di masyarakat bukanlah sebuah halusinasi, melainkan cerminan dari perbedaan mendasar antara indikator makroekonomi agregat dan distribusi kesejahteraan mikro, serta adanya pergeseran pola pengeluaran riil di lapangan,” ujar Prof. Wasiaturrahma.
Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi dapat terdorong oleh sektor-sektor padat modal, aktivitas korporasi besar maupun proyek strategis. Namun, kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat secara luas belum tentu sama.
“Pertumbuhan tinggi sering kali disumbangkan oleh sektor-sektor padat modal atau sektor modern yang tidak secara langsung menyerap tenaga kerja massal dalam jumlah besar atau menaikkan upah buruh secara signifikan. Sebaliknya, sektor-sektor padat karya yang menopang masyarakat kelas menengah ke bawah kerap tumbuh lebih lambat atau tertekan,” katanya.
Konsumsi Rumah Tangga Jadi Perhatian
Menurut Prof. Wasiaturrahma, kondisi konsumsi rumah tangga menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kualitas pertumbuhan ekonomi.
Hal ini relevan dengan struktur ekonomi Jawa Timur. BPS mencatat Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) memiliki kontribusi 60,85 persen terhadap PDRB Jatim pada triwulan II 2026. Komponen tersebut tumbuh 5,59 persen secara tahunan dan 5,74 persen secara kumulatif pada semester I 2026.
Prof. Wasiaturrahma menilai pertumbuhan konsumsi secara agregat tetap perlu dilihat dari komposisinya. Menurut dia, angka konsumsi yang tumbuh belum tentu berarti seluruh kelompok masyarakat mengalami peningkatan kemampuan belanja dalam tingkat yang sama.
Kelompok masyarakat berpendapatan tinggi, lanjutnya, masih dapat meningkatkan konsumsi pada sektor tersier. Sementara kelompok menengah ke bawah cenderung melakukan penyesuaian dengan mengurangi pembelian barang sekunder dan memprioritaskan kebutuhan dasar.
Ia menyebut fenomena downshifting atau pergeseran konsumsi ke produk yang lebih murah dan ukuran lebih kecil sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan. Selain itu, fenomena penggunaan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga perlu diuji melalui data perbankan.
“Untuk membuktikan kontradiksi antara angka makro dan realitas di lapangan secara empiris, tidak ada satu indikator tunggal yang berdiri sendiri. Namun, kombinasi antara pertumbuhan konsumsi rumah tangga, penjualan ritel riil dan data sektoral perbankan menjadi pilar penting,” jelasnya.
Jatim Punya Daya Tahan
Di tengah tantangan tersebut, Prof. Wasiaturrahma menilai Jawa Timur masih memiliki daya tahan ekonomi yang relatif kuat.
Data BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jatim pada semester I 2026 mencapai 5,84 persen, tertinggi di Pulau Jawa. Pada periode tersebut, pertumbuhan tinggi antara lain dicatat sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 10,76 persen, Jasa Lainnya 10,04 persen, Konstruksi 7,78 persen, serta Informasi dan Komunikasi 7,29 persen.
Secara spasial, Jawa Timur juga memberikan kontribusi 25,40 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa. Pertumbuhan Jatim sebesar 5,72 persen pada triwulan II menempatkannya di posisi ketiga setelah DI Yogyakarta sebesar 5,75 persen dan Jawa Barat 5,73 persen.
Menurut Prof. Wasiaturrahma, struktur ekonomi Jawa Timur yang relatif terdiversifikasi menjadi salah satu modal menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Namun, ia mengingatkan agar capaian pertumbuhan tidak hanya dilihat dari besarannya, tetapi juga dari seberapa jauh manfaatnya dirasakan masyarakat.
“Jawa Timur memiliki daya tahan yang relatif kuat. Namun, transmisi pelemahan daya beli tingkat nasional tetap berpotensi memberikan tekanan selektif di tingkat lokal, terutama bagi kelompok kelas menengah-bawah di perkotaan akibat kenaikan biaya hidup dan pengetatan likuiditas mikro,” pungkasnya. (why)

