Kepala Diskop UKM Jatim Endy Alim Abdi Nusa saat Memberikan Sertifikat Penghargan.
Sidoarjo, nusantaradigital.online – Bukan hanya kemampuan teori kewirausahaan yang diuji dalam program Youth Creativepreneur Center (YC2) Batch 2 Greenpreneur Tahun 2026. Para peserta juga ditantang membuktikan apakah produk dan gagasan bisnis mereka mampu diterima pasar.
Hal itu terlihat dalam Uji Kompetensi dan Pop Up Market Fit YC2 Batch 2 Greenpreneur yang digelar Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur (Diskop UKM Jatim) di halaman Galeri Batik dan Cinderamata, lingkungan Diskop UKM Jatim, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para wirausaha muda untuk mempresentasikan produk, jasa, maupun portofolio usaha secara langsung. Di sisi lain, peserta juga memperoleh penilaian serta masukan dari asesor, narasumber, pemerintah, perbankan, dan unsur dunia usaha.
Kepala Diskop UKM Jatim Endy Alim Abdi Nusa mengatakan, tahapan tersebut merupakan kelanjutan dari proses pembinaan yang telah dijalani peserta melalui Take Off Session dan Online Bootcamp.
Menurut dia, pembekalan kewirausahaan tidak cukup berhenti pada pemahaman materi. Peserta perlu menunjukkan kemampuan menerapkan pengetahuan tersebut dalam bisnis yang sedang mereka bangun.
“Setelah melalui take off session dan online bootcamp, peserta tidak hanya diminta untuk memahami materi, tetapi mulai membuktikan bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam usaha yang dijalankan,” ujar Endy.
Dalam Uji Kompetensi, peserta mengikuti penilaian dengan skema Perancangan Pemasaran Online. Sementara pada sesi Market Fit, mereka berhadapan langsung dengan lingkungan usaha untuk memperkenalkan sekaligus menguji produk yang dikembangkan.
Bagi peserta, tahapan tersebut sekaligus menjadi kesempatan mendapatkan perspektif dari pihak di luar bisnis mereka.
Endy mengatakan, kritik dan masukan yang muncul selama proses tersebut seharusnya menjadi bagian dari evaluasi bisnis. Masukan tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki produk, strategi pemasaran hingga model usaha.
“Jangan takut terhadap kritik dan masukan yang diperoleh dari seluruh narasumber dan tamu pada hari ini. Saya yakin semua kritik dan masukan itu akan memberikan motivasi dan dorongan untuk melanjutkan atau memperbaiki usaha di kemudian hari,” katanya.

Bisnis Hijau Mulai Digarap Anak Muda
Salah satu hal yang menarik dalam YC2 Batch 2 kali ini adalah munculnya peserta yang mengembangkan usaha berbasis lingkungan.
Sejumlah peserta membawa produk yang berkaitan dengan pertanian dan kebutuhan tanaman, termasuk pupuk organik serta produk pendukung lainnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa bisnis berbasis lingkungan mulai menjadi ruang yang digarap generasi muda. Sektor yang selama ini identik dengan pelaku usaha konvensional mulai mendapatkan sentuhan inovasi dari kalangan anak muda.
Endy mengaku melihat perkembangan tersebut sebagai hal yang menarik.
“Ketika melihat para pelaku usaha organik di sini, saya pikir urusan pupuk atau obat tanaman akan dihadiri orang-orang yang relatif senior. Ternyata yang hadir justru anak-anak muda. Ini menunjukkan bahwa ada passion yang luar biasa dari generasi muda untuk mengembangkan produk-produk organik,” ungkapnya.
Selain persoalan produk, peserta juga diperkenalkan dengan jejaring pendukung pengembangan usaha. Sejumlah unsur yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Dinas Kepemudaan dan Olahraga Jawa Timur, Dinas Komunikasi dan Informatika Jatim, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Kadin Jatim, Bank Mandiri, Bank Syariah Indonesia (BSI), serta tim asesor.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk memperoleh masukan terkait pemasaran, pengembangan bisnis, kemitraan hingga peluang akses pembiayaan.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Jawa Timur Muhamad Hadi Wawan Guntoro juga turut hadir bersama Kepala UPT Pelatihan Koperasi dan UKM Jatim.
Bagi Diskop UKM Jatim, proses pembinaan tersebut diharapkan tidak berhenti setelah peserta menyelesaikan rangkaian YC2. Evaluasi yang diperoleh dalam uji kompetensi dan Market Fit diharapkan diterjemahkan menjadi perbaikan konkret dalam menjalankan usaha.
Endy menegaskan, tujuan akhirnya adalah mendorong usaha yang dirintis generasi muda dapat berkembang sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi di Jawa Timur.
“Keinginan kita tidak lain adalah usaha Bapak Ibu semuanya bisa maju ke depannya, membuat Jawa Timur lebih bangkit lagi, pertumbuhan ekonominya meningkat, dan masyarakatnya sejahtera,” tandas Endy. (why/humas diskop jatim)

