RR Bukan Sekadar Bangun Ulang, BPBD Jatim Tegaskan Pemulihan Dimulai Sejak Pra-Bencana

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jawa Timur, Dhany Aribowo.

 

Sidoarjo, Lintas Nusantara – Fase rehabilitasi dan rekonstruksi (RR) sering dianggap sebagai tahap akhir dalam siklus kebencanaan. Namun BPBD Jawa Timur menegaskan, pemulihan justru dimulai sejak pra-bencana melalui perencanaan matang dan penguatan data.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jawa Timur, Dhany Aribowo, mengatakan pendekatan baru ini diterapkan agar proses pemulihan tidak berjalan lambat saat bencana terjadi.

“RR itu bukan sekadar membangun ulang setelah rusak. Sejak pra-bencana kami sudah siapkan data dan skema pemulihan. Jadi ketika terjadi bencana, kita tidak mulai dari nol,” ujarnya.

Menurut Dhany, BPBD Jatim telah menyusun pre-disaster recovery planning, yakni dokumen perencanaan pemulihan sebelum bencana terjadi. Dokumen tersebut menjadi dasar percepatan penyusunan R3P (Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana) setelah masa darurat berakhir.

R3P sendiri wajib disusun maksimal tiga bulan setelah tanggap darurat selesai dan berlaku selama tiga tahun. Dokumen itu menjadi dasar OPD teknis dalam menjalankan program pemulihan serta syarat pengajuan dukungan anggaran ke pemerintah pusat.

“Kalau dokumen tidak siap, anggaran tidak bisa turun. Jadi perencanaan ini krusial,” tegasnya.

Tak hanya menyasar pembangunan hunian tetap dan infrastruktur, RR juga mulai menggeser fokus ke pemulihan sosial ekonomi. Dhany menilai, mengembalikan mata pencaharian warga terdampak adalah tantangan terbesar dalam fase pascabencana.

“Kalau rumah bisa dibangun, tapi penghasilan warga tidak pulih, itu belum selesai. Pemulihan harus menyentuh ekonomi masyarakat,” katanya.

BPBD Jatim sebelumnya menggandeng akademisi dalam pemulihan pasca erupsi Semeru di Lumajang, termasuk program bantuan ternak berbasis kelompok. Model serupa akan dikaji untuk daerah terdampak lainnya.

Di sisi lain, inovasi juga dilakukan melalui pengembangan teknologi Virtual Reality (VR) untuk edukasi kebencanaan dan pelatihan penghitungan kerusakan. Teknologi ini dikembangkan bersama ITS dan masih dalam tahap uji coba.

Dhany mengakui, fase RR merupakan tahap paling berat dalam manajemen bencana.

“Kalau tanggap darurat itu terlihat heroik dan cepat. Tapi justru di fase pemulihan ini kerja panjang dimulai. Targetnya jelas: masyarakat harus kembali minimal seperti sebelum bencana,” pungkasnya. (why)

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights