Rahardjo, salah satu penggerak program kolaborasi.
Surabaya, Nusantaradigital.online – Upaya menekan tingginya tantangan pencarian kerja bagi kaum muda di Jawa Timur terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jatim menggandeng Plan International Indonesia untuk membangun ekosistem pelatihan dan pendampingan yang berujung langsung pada penempatan kerja.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan kolaboratif yang berlangsung selama dua hari di Hotel Santika Gubeng Surabaya, Selasa–Rabu (4–5/2/2026), dengan melibatkan pelaku usaha dari sektor hospitality, ritel, dan industri kreatif digital.
Rahardjo, salah satu penggerak program kolaborasi, menjelaskan bahwa kerja sama ini dirancang tidak sekadar pelatihan teknis, melainkan membangun budaya kolaborasi jangka panjang antara pemerintah, lembaga pendamping, dan dunia usaha.
“Fokus utama kami di Jawa Timur ada pada tiga sektor awal, yakni hospitality, ritel, dan layanan berbasis digital. Ini sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja muda, perempuan, dan disabilitas,” ujarnya.
Menurut Rahardjo, pendekatan program tidak berhenti pada proses pelatihan, tetapi berlanjut hingga pendampingan, monitoring, dan evaluasi saat peserta mulai bekerja.
“Kami dampingi anak-anak muda ini dari nol, mulai pelatihan, mencari tempat kerja, sampai masa-masa awal mereka bekerja. Harapannya, setelah lulus program mereka langsung terserap dan tidak kembali menganggur,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, dari lebih dari 2.400 pendaftar, saat ini sekitar 190-an peserta telah mengikuti pelatihan, dan hampir 90 orang sudah berhasil bekerja, terutama di bidang teknologi informasi, media sosial, serta hospitality seperti front office dan housekeeping.
“Masalahnya sekarang bukan cuma lowongan, tapi kesiapan mental dan adaptasi kerja. Di situlah pendampingan jadi penting, supaya ikatan emosional antara perusahaan dan tenaga kerja bisa terbentuk,” tambahnya.
Sementara itu, Maya, Project Manager Plan International Indonesia, menjelaskan bahwa kegiatan dua hari ini merupakan bagian dari strategi besar untuk menyinergikan program pemerintah dan lembaga internasional agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Hari pertama kami fokus sarasehan dengan pemerintah dan mitra pelatihan untuk memetakan program. Hari kedua ini kami mengajak private sector agar sejak awal siap menjadi mitra penempatan kerja dan pemagangan,” jelas Maya.
Ia menegaskan, tujuan utama program adalah memastikan kaum muda tidak berhenti di ruang kelas pelatihan.
“Kami ingin pelatihan berujung pada akses kerja nyata, baik melalui pemagangan maupun penempatan formal. Bahkan setelah mereka bekerja, kami tetap melakukan pendampingan agar adaptasi dan produktivitasnya terjaga,” ujarnya.
Maya juga menekankan pentingnya menciptakan tempat kerja yang aman, layak, dan inklusif, terutama bagi kelompok muda, perempuan, dan penyandang disabilitas.
“Kami ingin mitra perusahaan yang terlibat benar-benar siap, tidak hanya secara teknis, tapi juga memahami prinsip kesetaraan, perlindungan, dan kenyamanan kerja. Dengan begitu dampaknya bisa lebih luas dan berkelanjutan,” katanya. (why)

