PMI Jatim–BPBD Jatim Gandeng Australia Susun Rencana Kontinjensi Banjir Bengawan Solo Berbasis Antisipasi Dini

Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, Dadang Iqwandi (baju putih)

 

SURABAYA, Lintas Nusantara – Palang Merah Indonesia Provinsi Jawa Timur bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta perwakilan Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade menggelar forum kolaboratif penyusunan rencana kontinjensi (renkon) banjir Bengawan Solo yang terintegrasi dengan pendekatan Anticipatory Multi-Purpose Disaster (AMPD). Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 11–12 Februari 2026.

Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jawa Timur, Edy Purwinarto, menegaskan kesiapsiagaan menjadi kunci utama menghadapi risiko bencana yang tidak dapat dihindari. Ia menekankan pentingnya menindaklanjuti peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dengan kesiapan masyarakat di tingkat tapak.


“Peringatan dini harus direspons dengan kesiapan masyarakat agar mampu menyelamatkan diri sebelum dampak terburuk terjadi. Dalam sistem penanggulangan bencana, BPBD menjadi penanggung jawab utama di daerah, sementara PMI bergerak di bawah koordinasi BPBD. Karena itu, masyarakat tangguh yang memahami tanda peringatan dini sangat penting,” ujar Edy, Kamis (12/2/2026).

Ia menambahkan, program penguatan renkon ini merupakan amanah PMI Pusat yang dijalankan bersama BPBD dengan dukungan Pemerintah Australia. Selain memperkuat kesiapsiagaan tanggap darurat, dukungan donor juga diarahkan untuk penguatan mitigasi dan skema pendanaan kebencanaan di Jawa Timur.

Officer Program Siap Siaga Jatim, Mambaus Suud, menyebut forum ini menjadi momentum penting untuk mengintegrasikan pendekatan Anticipatory Action/Anticipatory Multi-Purpose Disaster dalam dokumen renkon Bengawan Solo. Pendekatan tersebut memanfaatkan informasi peringatan dini untuk mendorong aksi lebih awal sebelum bencana berdampak luas.

Program Manager DFAT Australia, Henry Pirade, menegaskan Jawa Timur menjadi salah satu dari empat provinsi prioritas kerja sama kebencanaan Indonesia–Australia selain Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Sejak 2009, kedua negara telah bekerja sama memperkuat sistem penanggulangan bencana melalui Program Siap Siaga yang dikelola Palladium bersama PMI.
“Pendekatan antisipatif sangat strategis di tengah meningkatnya risiko hidrometeorologi akibat perubahan iklim. Ini tidak hanya menyelamatkan jiwa, tetapi juga mengurangi kerugian ekonomi,” katanya.

 

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan inklusif dengan menempatkan perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas sebagai kelompok prioritas dalam perencanaan kebencanaan.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, Dadang Ichwandi, menjelaskan bahwa rencana kontinjensi banjir Bengawan Solo terakhir disusun pada 2018 dan kini diperbarui sesuai dinamika risiko terbaru. Lima kabupaten terdampak meliputi Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik.
“Renkon disusun berbasis skenario terburuk, pemetaan kebutuhan delapan klaster, serta ketersediaan sumber daya lintas lembaga. Renkon ini adalah kesepakatan bersama agar saat tanggap darurat semua sudah tahu siapa berbuat apa,” tegas Dadang. (why)

 

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights