Bank Jatim Mantapkan Arah Bisnis 2026 Lewat Rakerta, Targetkan Jadi BPD Nomor Satu Nasional

Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, menegaskan bahwa Rakerta merupakan agenda rutin awal tahun yang krusial untuk menyatukan visi, memperjelas arah kebijakan, dan memperkuat soliditas internal perusahaan.

 

Malang, Nusantaradigital.online – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) menggelar Rapat Kerja Tahunan (Rakerta) Tahun 2026 pada Jumat–Sabtu, 6–7 Februari 2026. Forum strategis ini menjadi momentum evaluasi kinerja tahun sebelumnya sekaligus penetapan arah kebijakan dan strategi bisnis Bank Jatim menghadapi tantangan industri perbankan yang semakin kompetitif.

Rakerta 2026 yang berlangsung di Ballroom Hotel Grand Mercure Mirama Malang tersebut dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Periode 2009–2014 Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, jajaran Dewan Komisaris, Dewan Pengawas Syariah, Direksi, hingga seluruh pimpinan cabang dan cabang pembantu Bank Jatim.

Mengusung tema “Audacity to Fly Higher”, Rakerta 2026 merefleksikan keberanian Bank Jatim untuk melompat lebih jauh, berani keluar dari zona nyaman, serta mengambil langkah-langkah strategis demi meraih kinerja yang lebih tinggi dan berkelanjutan. Tema ini sekaligus menjadi ajakan bagi seluruh insan Bank Jatim (Jatimers) untuk memperkuat inovasi, kolaborasi, dan kualitas eksekusi di seluruh lini.

Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, menegaskan bahwa Rakerta merupakan agenda rutin awal tahun yang krusial untuk menyatukan visi, memperjelas arah kebijakan, dan memperkuat soliditas internal perusahaan.

“Rakerta ini menjadi forum penyelarasan strategi sekaligus penguatan budaya kerja. Kami ingin seluruh Jatimers memiliki panduan yang konkret dalam menyusun action plan, serta semangat yang sama untuk mencapai target 2026 dengan kinerja yang berbasis GRC (Good Governance, Risk, dan Compliance),” ujar Winardi.

Winardi menyampaikan, pada tahun 2026 Bank Jatim berkomitmen memperkuat kinerja bisnis, tata kelola perusahaan, serta mempercepat transformasi digital guna mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Bahkan, Bank Jatim menargetkan visi jangka panjang yang ambisius.

“Kami optimistis pada tahun 2030 Bank Jatim mampu menjadi BPD nomor satu di Indonesia, baik dari sisi dana pihak ketiga, kualitas penyaluran kredit, pertumbuhan laba, maupun penguatan aset. Ini bukan sekadar target, tetapi komitmen kami untuk berkontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi Jawa Timur,” tegasnya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Bank Jatim menetapkan strategi 3-2-1 sebagai fokus utama tahun 2026. Strategi 3 business diarahkan pada optimalisasi penghimpunan dana murah (low cost funding), peningkatan kualitas penyaluran kredit dengan likuiditas yang efisien, serta penguatan transaksi digital banking.

Selanjutnya, strategi 2 enabler menjadi fondasi akselerasi bisnis melalui penguatan tata kelola perusahaan yang transparan dan berintegritas, serta penguatan sistem dan teknologi guna mendukung inovasi layanan, efisiensi operasional, dan keamanan sistem digital. Adapun strategi 1 people development menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai aset utama perusahaan.

“Melalui implementasi strategi 3-2-1 ini, kami yakin daya saing Bank Jatim akan semakin kuat, kinerja keuangan meningkat, serta mampu memberikan nilai tambah bagi nasabah, pemegang saham, dan seluruh pemangku kepentingan,” tambah Winardi.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi peran strategis Bank Jatim sebagai motor penggerak perekonomian daerah, khususnya dalam penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Bank Jatim tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga berperan penting memastikan UMKM naik kelas dan memiliki daya saing. Ini kunci menjaga ketahanan ekonomi sekaligus mendorong pemerataan pertumbuhan di Jawa Timur,” ujar Khofifah.

Khofifah menilai keterlibatan UMKM binaan Bank Jatim dalam berbagai misi dagang menjadi bukti konkret keberhasilan pola pembinaan yang terintegrasi, mulai dari akses pembiayaan, peningkatan kualitas produk, hingga perluasan pasar.

“UMKM yang dibawa dalam misi dagang bukan sekadar pameran. Mereka sudah siap produksi, siap kualitas, dan siap pasar. Ini menunjukkan pendampingan Bank Jatim benar-benar berdampak,” ungkapnya. (why)

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights