Sumenep, Nusantaradigital.online — Kelangkaan gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram di sejumlah daerah menimbulkan dampak serius bagi masyarakat kepulauan, khususnya warga kurang mampu yang bergantung pada gas bersubsidi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini dirasakan langsung oleh warga Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep.
Seorang warga Desa Sapeken, Muzaila, mengaku kesulitan mendapatkan LPG 3 kilogram dalam beberapa hari terakhir. Ia menyebut telah berkeliling ke agen, toko-toko, bahkan menanyakan ke pulau-pulau sekitar, namun gas subsidi tersebut tetap tidak tersedia.
“Kami sudah keliling ke agen dan toko-toko, bahkan sampai ke pulau lain untuk menanyakan LPG 3 kilogram, tapi tetap kosong. Kami kebingungan, sementara kayu bakar juga tidak tersedia di Desa Sapeken,” ujar Muzaila.
Menurutnya, LPG 3 kilogram merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi masyarakat kepulauan. Kelangkaan gas bersubsidi tersebut dinilai sangat memberatkan warga, terutama bagi rumah tangga kecil yang tidak memiliki alternatif bahan bakar lain.
“Gas LPG 3 kilogram ini sangat dibutuhkan masyarakat. Kalau sampai langka seperti ini, kami berharap ada perhatian serius dan solusi cepat dari pihak terkait,” tambahnya.
Sementara itu, H. Kandar, salah satu pelaku usaha yang melayani distribusi kebutuhan ke wilayah kepulauan, menjelaskan bahwa keterlambatan pasokan dipengaruhi faktor cuaca. Ia menyebut kapal pengangkut barang menuju wilayah kepulauan Sapeken tertahan di Pelabuhan Kalianget.
“Sudah empat hari kapal kami tertunda keberangkatannya di Kalianget akibat cuaca buruk. Insyaallah satu atau dua hari ke depan, jika cuaca membaik, kapal Aven Selon akan berangkat menuju kepulauan Kecamatan Sapeken,” jelas H. Kandar.
Warga berharap distribusi LPG 3 kilogram ke wilayah kepulauan dapat segera kembali normal. Mereka juga meminta pemerintah dan pihak terkait untuk memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi gas bersubsidi, mengingat kondisi geografis kepulauan yang sangat bergantung pada jalur laut. (BHR)

