GUANGZHOU, Nusantaradigital.online — Rombongan OPOP Business Trip II Tahun 2026 melanjutkan rangkaian agenda internasional dengan melakukan kunjungan resmi ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Guangzhou, Tiongkok, Sabtu (25/1/2026). Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 waktu setempat tersebut diikuti sekitar 40 delegasi pesantren dari Jawa Timur.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya strategis memperkuat jejaring internasional pesantren, sekaligus membuka peluang kerja sama di bidang ekonomi, pendidikan, dan pengembangan usaha berbasis pesantren.
Rombongan diterima langsung di Wisma KJRI Guangzhou oleh Konsul Jenderal RI di Guangzhou, Ben Perkasa Derajat, beserta istri. Para delegasi disambut hangat dalam suasana kekeluargaan dan diarahkan mengikuti agenda penerimaan resmi di ruang utama KJRI yang representatif. Dialog dan silaturahmi berlangsung akrab, mencerminkan kedekatan emosional antara perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri dengan para kiai, gus, ning, serta pengelola pesantren peserta OPOP Jawa Timur.
Dalam sambutannya, Konjen Ben Perkasa Derajat menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Ia menyebut, jumlah delegasi OPOP menjadi yang terbanyak sepanjang masa jabatannya sebagai Konjen RI di Guangzhou.
“Saya sangat bahagia menerima 40 delegasi pesantren dari Jawa Timur. Sepanjang saya menjabat sebagai Konjen RI di Guangzhou, ini adalah rekor tamu terbanyak yang hadir dalam satu waktu,” ujarnya.
Konjen Ben juga memperkenalkan dirinya sebagai putra daerah Jawa Timur asal Malang. Ia mengungkapkan kedekatan emosional dengan Jawa Timur, termasuk pengalamannya menghadiri peresmian penerbangan langsung Guangzhou–Surabaya bersama Gubernur Jawa Timur setahun sebelumnya, bahkan menjadi penumpang pertama pada rute tersebut. Menurutnya, konektivitas ini sangat strategis dalam mendorong kerja sama ekonomi dan mobilitas masyarakat kedua wilayah.
Dalam pemaparannya, Konjen Ben menyoroti sejumlah komoditas Indonesia yang berpeluang besar menembus pasar Guangzhou, di antaranya kopi dan kelapa. Meski masyarakat setempat lebih dikenal dengan budaya minum teh, ia menilai hal tersebut justru menjadi peluang untuk memperkenalkan kopi Indonesia sebagai produk unggulan nusantara. Ia juga menegaskan kesiapan KJRI Guangzhou untuk memfasilitasi pesantren Jawa Timur agar mampu mengembangkan usaha hingga pasar internasional.
Sesi dialog berlangsung interaktif. Gus Alimatsubir dari Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Al-Ikhlas Malang mengangkat isu pengembangan lulusan pesantren agar mampu berkiprah di tingkat global, khususnya sebagai pengusaha internasional.
“Kami berharap OPOP Business Trip ini memberi dampak berkelanjutan, tidak hanya wawasan, tetapi juga koneksi internasional yang bisa dibawa pulang dan memberi kemaslahatan bagi pesantren,” ujarnya.
Ning Qurrotul Ayun dari Pondok Pesantren KH Syarifuddin Lumajang berharap adanya pendampingan langsung dari KJRI agar potensi lokal pesantren dapat ditingkatkan dan diekspor ke Guangzhou. Hal senada disampaikan Gus Indika Rahman dari Pondok Pesantren Roudlatul Ulum Bojonegoro yang menekankan pentingnya bimbingan berkala agar produk pesantren mampu bersaing di pasar internasional.
Menanggapi hal tersebut, Konjen Ben Perkasa menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM pesantren sangat terbuka, baik melalui jalur pendidikan maupun ekonomi. Ia menyebut Guangzhou memiliki banyak universitas maju yang membuka peluang bagi mahasiswa internasional, termasuk santri pesantren. Selain itu, KJRI Guangzhou siap memberikan bimbingan berkelanjutan serta memfasilitasi proses ekspor produk pesantren ke pasar global.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal OPOP Jawa Timur, Gus Ghofirin, menyampaikan salam dari Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur kepada Konjen RI di Guangzhou. Ia menegaskan bahwa Program OPOP merupakan inisiatif Pemprov Jatim untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis pesantren dengan tagline “Pesantren Berdaya, Masyarakat Sejahtera.”
“Saat ini OPOP Jawa Timur telah diikuti sekitar 1.600 pesantren. Pada OPOP Business Trip kedua ini, 40 delegasi berangkat dengan biaya mandiri. Ini menunjukkan semangat luar biasa pesantren untuk go internasional,” ujar Gus Ghofirin.
Ia menambahkan, ribuan produk pesantren akan dikurasi secara ketat agar tidak hanya unggul di pasar lokal, tetapi juga memenuhi standar pasar internasional dari sisi kualitas, kemasan, dan akses distribusi.
Menutup kegiatan, Gus Ghofirin berharap KJRI Guangzhou turut mendorong peningkatan jumlah restoran halal di Guangzhou, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan muslim asal Indonesia. Pertemuan yang ditutup dengan ramah tamah tersebut diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat kolaborasi internasional pesantren Jawa Timur serta mempercepat terwujudnya kemandirian ekonomi pesantren melalui Program OPOP. (why)

