Surabaya, Nusantaradigital.online – Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Timur, Sigit Priyanto, melantik delapan pejabat Jabatan Fungsional Instruktur yang naik jenjang dari kategori terampil ke keahlian, Selasa siang (30/12/2025). Pelantikan berlangsung khidmat di Kantor Disnakertrans Jawa Timur, Surabaya.
Delapan instruktur yang dilantik berasal dari berbagai UPT Balai Latihan Kerja (BLK) di Jawa Timur. Mereka adalah Indra Widya Bhakti, S.Kom. (UPT BLK Pasuruan), Tri Laksono, S.T. (UPT BLK Jember), Dodik Khoiruddin, S.T. (UPT BLK Singosari), Nurul Hidayah, S.Pd. (UPT BLK Bojonegoro), Rizki Nurhazizah Tri Atmaja, S.Kom. (UPT BLK Singosari), Andi Kurnianto, S.Kom. (UPT BLK Bojonegoro), Herdian Cahyaningrum, S.Kom. (UPT BLK Situbondo), serta Adityo Dwi Prakoso, S.Kom. (UPT BLK Tuban).
Satu orang instruktur mengikuti pelantikan secara daring karena sedang menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci.
Dalam sambutannya, Sigit Priyanto menegaskan bahwa kenaikan jenjang jabatan bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan amanah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, khususnya di bidang pelatihan vokasi dan ketenagakerjaan.

“Ditengah kondisi efisiensi anggaran saat ini, ASN dituntut tidak hanya bekerja keras, tetapi juga bekerja cerdas. Inovasi dan kreativitas menjadi kunci agar pelayanan publik tetap optimal,” tegasnya.
Sigit secara khusus menyoroti tantangan yang dihadapi para instruktur BLK, terutama berkurangnya paket pelatihan akibat penyesuaian anggaran. Namun demikian, ia menekankan bahwa inovasi tidak selalu identik dengan biaya besar.
Menurutnya, langkah-langkah sederhana seperti penyederhanaan prosedur layanan, digitalisasi proses manual, serta integrasi layanan lintas bidang dapat menjadi solusi efektif untuk menjaga kualitas layanan tanpa membebani APBN maupun APBD.
Selain itu, Sigit mendorong para instruktur untuk aktif membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, dunia usaha, program CSR, akademisi, hingga komunitas, guna membuka peluang kerja sama dan memperluas dampak pelatihan.
“Pelayanan yang cepat, mudah, dan transparan tetap bisa diwujudkan melalui cara kerja baru, meskipun dengan keterbatasan anggaran,” ujarnya. (why)

