Surabaya, Nusantaradigital.online — Persiapan launching OPOP Training Center (OTC) ITS kian dimatangkan melalui rapat koordinasi yang digelar pada Selasa, 25 November 2025, di Ruang Bung Hatta, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur. Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memastikan kesiapan teknis maupun substansi program, sekaligus menyatukan langkah antara OPOP Jawa Timur dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam menghadirkan pusat pelatihan yang digadang-gadang mampu memperkuat ekosistem ekonomi pesantren.

Rapat ini dihadiri oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa, Sekjen OPOP Jatim, Gus Ghofirin, perwakilan ITS Prof. Nurul Jadid, Arief Abdurrahman, Bima Surya, serta tim OPOP Jatim. Pembahasan berlangsung intensif, meliputi konsep gerai, kurikulum pelatihan, hingga skema pendampingan berbasis teknologi dan kewirausahaan. Setiap peserta rapat memberikan masukan konstruktif agar program yang akan dijalankan benar-benar membawa manfaat optimal bagi pesantren di Jawa Timur.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Endy Alim Abdi Nusa, menegaskan bahwa kolaborasi ITS dan OPOP Jatim merupakan langkah strategis dalam memperluas jangkauan pemberdayaan yang berbasis inovasi dan teknologi modern. Ia meminta seluruh pihak mempercepat koordinasi sehingga proses launching dapat berjalan lancar dan menghasilkan pusat pelatihan yang mendorong peningkatan kompetensi santri serta daya saing produk pesantren.
Sekjen OPOP Jatim, Gus Ghofirin, juga menekankan bahwa kehadiran OTC ITS akan menjadi energi baru dalam penguatan ekonomi pesantren di Jawa Timur. Menurutnya, ITS sebagai perguruan tinggi berbasis teknologi memiliki sumber daya dan kapasitas strategis untuk mendorong inovasi, meningkatkan kualitas produksi, dan memperkuat kemitraan pesantren dengan dunia industri.
“Alhamdulillah, hari ini ITS menyampaikan komitmennya untuk memperkuat ekosistem ekonomi pesantren di Jawa Timur. OPOP yang diinisiasi oleh Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa, memiliki tiga pilar utama: pesantrenpreneur, santripreneur, dan sosiopreneur. Ketiganya saling terintegrasi untuk mendorong kemandirian ekonomi pesantren,” ujar Ghofirin.
Sementara itu, perwakilan ITS, Arief Abdurrahman, menyampaikan kesiapan ITS untuk berkolaborasi dan mendukung penuh proses persiapan OTC ITS. Ia menilai bahwa kerja sama ini sangat relevan karena banyak civitas akademika ITS yang memiliki latar belakang pesantren sehingga memahami kebutuhan, tantangan, dan potensi pengembangan ekonomi berbasis pesantren.
Arief menegaskan bahwa ITS akan menyiapkan modul pelatihan dan pendampingan yang relevan, mulai dari manajemen usaha, digitalisasi, pengembangan produk, hingga penguatan jejaring pemasaran. Menurutnya, sinergi ini tidak hanya meningkatkan kualitas program, tetapi juga membuka ruang kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan industri, lembaga riset, hingga mitra bisnis strategis.
Rapat tersebut menghasilkan kesepakatan untuk segera mempercepat seluruh tahap persiapan, mulai dari penyempurnaan fasilitas, finalisasi program pelatihan, hingga kesiapan sumber daya pendamping. Launching OTC ITS dijadwalkan akan digelar dalam waktu dekat.
Peluncuran ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni peresmian, melainkan menjadi titik awal hadirnya pusat pelatihan yang mampu memperkuat literasi industri, meningkatkan inovasi produk, serta mendorong kemandirian ekonomi pesantren di Jawa Timur secara berkelanjutan. (why)
