Bekal Lulusan Teknik UWKS, Heny Tri Purnaningsih Tekankan Pentingnya Kreativitas, Komunikasi dan Problem Solving

Praktisi, Heny Tri Purnaningsih, Amd., SE., M.I.Kom.,

Surabaya, Nusantaradigital.online – Lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan ijazah dan nilai akademik untuk memasuki dunia kerja. Kemampuan mengenali diri, berkomunikasi, berkolaborasi, berinovasi hingga memecahkan masalah menjadi bekal penting yang harus dimiliki calon tenaga profesional.

Hal tersebut disampaikan Heny Tri Purnaningsih, Amd., SE., M.I.Kom. dari, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Yudisium Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 Fakultas Teknik Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Rabu (19/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Bangsal Pancasila tersebut diikuti para peserta yudisium Fakultas Teknik UWKS. Dalam susunan acara tercatat sebanyak 86 mahasiswa dinyatakan lulus yudisium.

Dalam pembekalannya, Heny mengingatkan para lulusan agar tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan formal. Menurutnya, dunia kerja membutuhkan individu yang mampu terus mengembangkan diri dan memahami potensi yang dimilikinya.

“Cari teman yang banyak ilmunya. Lebih banyak kepala yang berpikir daripada satu kepala. Dari satu guru, kita bisa mendapatkan banyak perspektif,” ujarnya.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk mulai mengenali diri sendiri, termasuk memahami kelebihan, kekurangan, peluang dan tantangan yang dimiliki. Kemampuan tersebut penting agar lulusan dapat menentukan langkah pengembangan karier secara lebih tepat.

Menurut Heny, salah satu kunci sukses menghadapi dunia kerja adalah menjadi pribadi yang inovatif dan kreatif. Bagi lulusan teknik, kemampuan tersebut tidak sekadar menghasilkan ide, tetapi juga mampu menerjemahkan pengetahuan dan teknologi menjadi solusi yang bisa diterapkan.

“Insinyur harus kreatif. Kreatif itu menghasilkan hal baru. Jangan hanya berhenti pada konsep di atas kertas, tetapi bagaimana sesuatu itu bisa diimplementasikan,” katanya.

Selain kemampuan teknis, Heny menekankan pentingnya soft skill, terutama komunikasi. Lulusan teknik, kata dia, harus mampu menjelaskan persoalan teknis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang lain, termasuk mereka yang tidak memiliki latar belakang teknik.

“Orang yang hebat adalah orang yang bisa menyampaikan gagasan, menerjemahkan sesuatu kepada orang lain. Orang teknik harus bisa menyederhanakan hal-hal teknis supaya siapapun bisa memahami,” jelasnya.

Kemampuan komunikasi tersebut juga berkaitan erat dengan kemampuan bekerja secara kolaboratif. Di dunia kerja, seseorang tidak dapat bekerja sendiri karena harus mampu mengajak orang lain mencapai tujuan yang sama.

Heny juga mendorong lulusan untuk memiliki kemampuan problem solving. Menurutnya, perusahaan membutuhkan orang yang tidak hanya mampu menemukan adanya persoalan, tetapi juga dapat membedah masalah, mencari alternatif dan menawarkan solusi.

“Problem solving itu penting. Kita harus tahu masalahnya apa, kemudian membedah langkah-langkahnya dan mencari solusi,” tuturnya.

Tak hanya itu, ia mengingatkan mahasiswa agar mempersiapkan diri menghadapi proses rekrutmen. Salah satunya dengan memahami lowongan pekerjaan, memperhatikan kata kunci dan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan, serta menyiapkan CV dan portofolio yang menggambarkan kemampuan nyata.

Heny menilai project atau pengalaman praktik menjadi bagian penting yang dapat memperkuat profil seorang pencari kerja. Karena itu, mahasiswa disarankan menyimpan dan mendokumentasikan hasil proyek yang pernah dikerjakan selama kuliah.

“Yang penting bukan hanya ijazah dan KHS. Perusahaan ingin melihat apakah kalian benar-benar paham dan bisa mengaplikasikan tools atau aplikasi yang dibutuhkan sesuai tujuan karier,” katanya.

Ia juga menyarankan mahasiswa memperkuat kompetensi melalui sertifikasi yang relevan, antara lain keselamatan kerja, desain, pemodelan maupun manajemen proyek, sesuai bidang yang ingin ditekuni.

Di era digital, keberadaan media sosial profesional juga dinilai penting. Heny meminta mahasiswa membangun rekam jejak digital yang positif karena perusahaan dapat melihat karakter, aktivitas dan kompetensi calon pekerja melalui berbagai platform.

“Mulai melamar, tetapi sebelumnya persiapkan diri. Sosial media juga penting karena recruiter bisa melihat bagaimana karakteristik dan etika kalian,” ujarnya.

Lebih jauh, Heny mengingatkan agar mahasiswa tidak hanya berorientasi menjadi karyawan. Jiwa kewirausahaan juga perlu dikembangkan sehingga lulusan memiliki alternatif untuk menciptakan peluang usaha maupun lapangan pekerjaan.

Menurutnya, dunia kerja akan terus berubah sehingga lulusan harus memiliki kemauan untuk belajar hal baru, menguasai teknologi, memperluas jaringan dan meningkatkan kemampuan komunikasi.

“Jangan cinta pada perusahaan, tetapi cintailah pekerjaanmu. Karena kita bisa bekerja di mana pun. Yang penting adalah bagaimana kita terus belajar dan memberikan yang terbaik,” pesannya.

Ia berharap para lulusan Fakultas Teknik UWKS tidak hanya menjadi tenaga kerja yang memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu menjadi profesional yang adaptif, komunikatif, kreatif, kolaboratif dan mampu memberikan solusi bagi masyarakat maupun dunia industri.(wks)

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights