Surabaya, Nusantaradigital.online — Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Timur mematangkan persiapan penutupan rangkaian Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2026 yang akan digelar pada 12 Februari 2026 di salah satu hotel di Surabaya. Acara tersebut direncanakan dibuka langsung oleh Gubernur Jawa Timur.
Kepala Disnakertrans Jawa Timur, Sigit Priyanto, menyampaikan bahwa penutupan Bulan K3 Nasional menjadi momentum penting untuk menegaskan keberlanjutan penerapan budaya K3 di dunia kerja di Jawa Timur.
“Penutupan ini bukan hanya seremoni, tetapi refleksi dan penguatan komitmen bersama agar penerapan K3 terus berjalan secara konsisten dan berkelanjutan,” ujar Sigit saat ditemui di kantornya, kemarin.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan Disnakertrans Jatim, Tri Widodo, menjelaskan bahwa jumlah peserta yang akan hadir dalam penutupan Bulan K3 Nasional 2026 ditargetkan sebanyak 250 orang.
“Dari total tersebut, sekitar 150 peserta berasal dari perusahaan-perusahaan di Jawa Timur, sedangkan sisanya merupakan unsur pengawasan ketenagakerjaan serta panitia penyelenggara,” kata Tri Widodo.
Ia menambahkan, kegiatan penutupan ini diharapkan menjadi forum konsolidasi antara pemerintah dan dunia usaha dalam memperkuat implementasi K3 di lingkungan kerja. Menurutnya, keterlibatan aktif perusahaan menjadi faktor kunci dalam menurunkan angka kecelakaan kerja.
Tri Widodo juga menyebut bahwa Jawa Timur memiliki capaian positif dalam bidang K3. Ia mengungkapkan, Jawa Timur tercatat enam kali berturut-turut menerima penghargaan K3 tingkat nasional, sehingga komitmen tersebut perlu terus dijaga dan ditingkatkan.
“Prestasi itu harus diikuti dengan penerapan K3 yang nyata di lapangan. Melalui penutupan Bulan K3 Nasional ini, kami berharap kesadaran dan kepatuhan terhadap K3 semakin menguat,” ujarnya.
Dengan kehadiran Gubernur Jawa Timur yang dijadwalkan membuka acara, Disnakertrans Jatim berharap pesan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja dapat tersampaikan secara luas dan menjadi budaya di seluruh sektor industri di Jawa Timur. (why)

