Surabaya, Nusantaradigital.online – Provinsi Jawa Timur menandai usia ke-80 tahun dengan upacara peringatan yang khidmat dan penuh makna di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin langsung jalannya upacara, didampingi Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak dan Ketua TP PKK Provinsi Jatim Arumi Bachsin Emil Dardak.
Upacara turut dihadiri oleh dua mantan Gubernur Jawa Timur, Mayjen TNI (Purn) Imam Utomo (periode 1998–2008) dan Dr. H. Soekarwo atau akrab disapa Pakde Karwo (periode 2009–2019), yang juga pencipta Mars Jawa Timur. Hadir pula perwakilan negara sahabat dari Jepang, Australia, Belanda, Inggris, dan India, serta jajaran Forkopimda Provinsi Jawa Timur, para Bupati/Wali Kota, pimpinan instansi vertikal, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah mengawali dengan mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan para korban tragedi runtuhnya mushala Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, yang menelan sejumlah korban jiwa.
“Peristiwa ini meninggalkan kesan mendalam bagi kita semua dan mengingatkan akan pentingnya tanggung jawab bersama untuk menjamin lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi para santri di Jawa Timur,” ujarnya.
Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada BNPB, TNI, Polri, relawan, serta seluruh masyarakat yang telah bekerja tanpa henti dalam proses evakuasi dan penanganan korban.
Mengusung tema “Jatim Tangguh, Terus Bertumbuh”, peringatan tahun ini menjadi momentum reflektif atas perjalanan panjang delapan dekade pembangunan provinsi terbesar di Indonesia bagian timur itu.
“Delapan puluh tahun bukan sekadar rentang waktu, melainkan cerminan kerja keras dan kreativitas masyarakat Jawa Timur dalam membangun peradaban,” ungkap Khofifah.
Ia menjelaskan bahwa kemajuan Jawa Timur bersandar pada pemerataan pertumbuhan dari kawasan metropolitan Surabaya-Gresik-Sidoarjo-Mojokerto hingga wilayah Mataraman, Pantura, Madura, dan Tapal Kuda.
Khofifah menegaskan filosofi pembangunan “Jatim Bisa” yang berarti berdaya, inklusif, sinergis, dan adaptif sebagai ruh dari pembangunan Jawa Timur ke depan“Dengan semangat Jatim Bisa, kita tidak hanya menjadi bagian dari perubahan, tetapi pelaku utama dari perubahan itu sendiri,” tegasnya.
Dalam laporan kinerja lima tahun terakhir, Gubernur Khofifah memaparkan bahwa ekonomi Jawa Timur terus menunjukkan tren positif. Pada triwulan II tahun 2025, ekonomi Jatim tumbuh 5,23 persen, melampaui rata-rata nasional sebesar 5,2 persen.
Tingkat kemiskinan pun berhasil ditekan hingga 9,5 persen, dengan kemiskinan ekstrem turun drastis dari 4,40 persen pada 2020 menjadi 0,66 persen pada Maret 2024.
Lebih membanggakan lagi, jumlah desa mandiri di Jawa Timur mencapai 4.716 desa, tertinggi di Indonesia. Program Koperasi Merah Putih, yang menjadi amanat Presiden Prabowo Subianto, juga mencatat rekor nasional dengan terbentuknya 8.494 koperasi di Jatim.
“Desa-desa mandiri adalah akar kekuatan ekonomi rakyat. Ketika dunia menghadapi krisis pangan, desa-desa di Jawa Timur justru menjadi benteng kemandirian pangan nasional,” tutur Khofifah.
Jawa Timur tercatat sebagai lumbung pangan nasional, memproduksi 12 juta ton beras dengan luas tanam 1,57 juta hektar, serta menjadi produsen utama jagung, tebu, daging sapi, telur, susu, dan hasil perikanan.
Dalam sektor infrastruktur, Pemprov Jatim terus memperluas layanan Trans Jatim sebagai moda transportasi publik massal yang aman, terjangkau, dan ramah lingkungan.
Selain itu, komitmen terhadap keberlanjutan terbukti dengan diraihnya peringkat pertama nasional dalam implementasi ekonomi hijau dan transisi energi berkelanjutan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.
“Jawa Timur tidak hanya mengejar produktivitas, tapi juga menjaga bumi melalui penurunan emisi karbon dan perluasan energi terbarukan,” kata Khofifah.
Ia juga menyoroti peran penting revolusi digital dan kecerdasan buatan (AI) dalam menghadapi era baru. Jawa Timur dengan lebih dari 700 perguruan tinggi terus bertransformasi menjadi pusat inovasi dan pendidikan unggul di Indonesia.
Khofifah menegaskan pentingnya mempersiapkan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045. Dalam enam tahun terakhir, siswa SMA/SMK Jatim menjadi yang terbanyak diterima di perguruan tinggi negeri, baik melalui jalur tes maupun tanpa tes.
Selain itu, Jatim juga memimpin dengan jumlah Sekolah Rakyat terbanyak di Indonesia, yakni 26 sekolah dengan lebih dari 2.450 siswa.
“Anak-anak muda Jawa Timur adalah lokomotif generasi emas. Mereka tangguh, kreatif, inovatif, dan peduli sosial,” ucapnya penuh optimisme.
Sebagai bagian dari perayaan, Pemprov Jatim memberikan penghargaan kepada insan dan lembaga berprestasi, termasuk kepada jajaran TNI-Polri, BPBD, rumah sakit, dan pemerintah daerah yang berkontribusi besar bagi kemajuan Jawa Timur.
Peringatan HUT ke-80 Jatim juga mencatat Rekor MURI untuk “Pagelaran Orkestra Simfoni oleh Siswa SMA dan SMK Terbanyak” di Indonesia, dengan melibatkan 230 siswa dari 179 sekolah.
Acara dimeriahkan dengan tarian kolosal dan pertunjukan Reog Ponorogo yang melambangkan keteguhan, kebijaksanaan, dan harmoni masyarakat Jawa Timur dalam menghadapi tantangan zaman.
Menutup sambutannya, Gubernur Khofifah menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada para pendahulu, di antaranya Imam Utomo dan Soekarwo, serta seluruh unsur Forkopimda, DPRD, kepala daerah, akademisi, pelaku usaha, ulama, dan masyarakat Jawa Timur.
“Dengan semangat Basuki Mawa Beya, mari kita bergandeng tangan, bekerja keras, dan saling menguatkan. Tangguh nyawiji, bertumbuh menuju kemuliaan,” pungkasnya. (why)

