Muhasabah Akhir Tahun BPBD Jatim: Gus Afthon Ingatkan Waktu, Iman, dan Kepedulian Sosial sebagai Kunci Keselamatan

SIDOARJO, Nusantaradigital.online – Menutup akhir tahun 2025 dengan penuh makna, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur bersama warga sekitar menggelar Kajian Muhasabah dan Doa Bersama di Masjid Al-Matin BPBD Jatim, Selasa (30/12/2025). Kegiatan ini menjadi ikhtiar spiritual untuk memperkuat kesadaran iman, tanggung jawab sosial, serta refleksi atas waktu yang telah Allah SWT anugerahkan.

Kajian menghadirkan Pengasuh Pondok Tahfidz Qur’an Al-Qadr Sidoarjo, Ustadz M. Afthoni Adyatama Zahro atau Gus Afthon, yang menekankan pentingnya memanfaatkan waktu sebagai amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Dalam tausiyahnya, Gus Afthon mengingatkan kandungan Surah Al-‘Ashr bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

“Waktu adalah nikmat besar yang sering menipu manusia. Nabi Muhammad SAW menegaskan, pada hari kiamat setiap manusia akan ditanya salah satunya tentang untuk apa waktu hidupnya dihabiskan,” tutur Gus Afthon.

Ia menyebut dua nikmat yang paling sering melalaikan manusia adalah nikmat sehat dan nikmat waktu luang. Menurutnya, banyak orang baru menyadari nilainya ketika sakit atau kehilangan kesempatan.

Mengaitkan dengan kondisi kebencanaan, Gus Afthon mengajak jamaah untuk bercermin dari musibah yang menimpa saudara-saudara di Sumatera. “Ketika kita masih diberi kesehatan dan keamanan, sejatinya kita sedang diuji: apakah waktu ini kita gunakan untuk mendekat kepada Allah dan peduli pada sesama,” ujarnya.

Lebih jauh, Gus Afthon menegaskan bahwa iman tidak bisa berdiri sendiri tanpa amal saleh. Ia mengingatkan bahwa Islam tidak hanya berhenti pada ritual pribadi (habluminallah), tetapi harus nyata dalam kepedulian sosial (habluminannas).

“Al-Qur’an selalu menggunakan kata sambung wa—beriman dan beramal saleh. Artinya tidak boleh dipisah. Ibadah kepada Allah harus tercermin dalam akhlak sosial,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga salat sebagai fondasi utama pemanfaatan waktu. Salat, menurutnya, adalah ibadah yang tidak bisa diwakilkan, tidak bisa diganti, dan tetap wajib dilaksanakan dalam kondisi apa pun.

“Salat adalah hutang kepada Allah. Selama masih diberi usia dan kesehatan, maka itulah kesempatan untuk membayarnya,” pesannya.

Dalam konteks kehidupan modern, Gus Afthon mengingatkan bahaya lalai sejak bangun tidur. Ia menyesalkan kebiasaan langsung menggenggam gawai sebelum memenuhi hak Allah SWT.

“Bangun tidur seharusnya diawali dengan syukur, bukan langsung melihat ponsel. Minimal membaca doa bangun tidur agar hidup kita tidak dipenuhi kegelisahan, kebingungan, dan rasa cukup yang hilang,” ungkapnya.

Menutup ceramah, Gus Afthon menekankan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar sesuai kapasitas masing-masing, baik dengan tindakan, lisan, tulisan, maupun penolakan dalam hati, sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

Kegiatan muhasabah ini diikuti para pegawai BPBD Jatim, jamaah Masjid Al-Matin, serta kelompok pengajian ibu-ibu RW 06 Desa Waru, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Acara juga diisi dengan penyerahan santunan kepada anak-anak yatim dari Yayasan Panti Asuhan Muzdalifah di sekitar kantor BPBD Jatim.

Doa bersama pun dipanjatkan untuk keselamatan Jawa Timur dan ketabahan masyarakat yang terdampak bencana di Sumatera.

“Semoga Jawa Timur dijauhkan dari bencana, dan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah diberi kesabaran serta kebaikan oleh Allah SWT,” harap Gus Afthon. (why)

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights