Surabaya, Nusantaradigital.online – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya menggelar kegiatan Senam Lansia di halaman Balai Kota Surabaya, Minggu (10/8) pagi. Sebanyak 640 lansia mengikuti kegiatan ini, jumlah yang sekaligus menjadi simbol usia Bank Jatim yang genap 64 tahun.
Acara tersebut dihadiri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Plt. Direktur Utama Bank Jatim, Arif Suhirman. Dalam sambutannya, Arif menyampaikan bahwa senam lansia ini merupakan bentuk kepedulian Bank Jatim terhadap kesehatan warga lanjut usia.
“Semua peserta luar biasa, ini bukti para lansia di Surabaya masih aktif, sehat, dan bugar. Kegiatan ini menjadi wujud nyata bahwa kepedulian sosial dapat berjalan seiring peran sebagai institusi keuangan,” ungkap Arif.
Ia menambahkan, kegiatan seperti ini dapat memperkuat upaya Bank Jatim membangun masyarakat yang sehat dan berdaya, sekaligus mempererat hubungan dengan komunitas lokal.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, senam lansia bukan sekadar perayaan ulang tahun Bank Jatim, melainkan juga upaya meningkatkan Angka Harapan Hidup (AHH) warga lansia di Kota Pahlawan.
“Olahraga teratur, khususnya bagi wanita menopause, terbukti dapat memperpanjang harapan hidup. Karena itu, Pemkot Surabaya akan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Unair untuk mengembangkan program olahraga lansia yang tepat jenis dan waktunya,” ujarnya.

Saat ini, AHH Surabaya tercatat 75,82 tahun, yang turut mendorong kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kota. Eri menekankan, kebahagiaan juga menjadi kunci umur panjang. “Intinya bahagia. Orang bahagia itu panjang umur, jadi jangan stres,” pesannya.
Selain senam, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penyerahan simbolis bantuan operasi katarak gratis kepada penerima manfaat. Sebanyak 10 pasien katarak mendapat layanan operasi gratis hasil kolaborasi Bank Jatim, Bank NTB Syariah, dan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) yang telah dilaksanakan pada 2 Agustus lalu.
Arif menjelaskan, katarak merupakan penyebab utama kebutaan yang bisa diobati, namun keterbatasan akses layanan kesehatan masih menjadi kendala bagi sebagian masyarakat. “Kami ingin memastikan setiap peserta mendapatkan perawatan terbaik sehingga mereka bisa cepat pulih dan kembali beraktivitas,” tutupnya. (why)

