Inflasi Jatim Terendah se-Jawa, Tapi Tekanan Harga Energi Jadi Catatan Serius

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut capaian ini sebagai hasil sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. “Alhamdulillah, inflasi kita terjaga selama Lebaran. Ini prestasi kerja bersama,” kata Khofifah dalam pernyataannya di Surabaya, Senin, 5 Mei 2025.

 

Namun, di balik angka yang impresif itu, muncul tekanan signifikan dari sisi energi dan logistik. BPS mencatat tarif listrik menjadi penyumbang inflasi terbesar di Jawa Timur, dengan andil mencapai 0,99 persen. Penyebabnya, berakhirnya program diskon listrik dari pemerintah pusat sejak akhir Februari.

 

Selain itu, komoditas non-pangan seperti emas perhiasan (0,20 persen), angkutan udara (0,08 persen), serta bawang merah dan kelapa (masing-masing 0,03 persen) turut memberi tekanan pada inflasi April.

 

“Artinya, meskipun harga pangan relatif terkendali, beban masyarakat tetap meningkat dari sisi kebutuhan energi dan logistik,” kata seorang pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga yang enggan disebutkan namanya. Ia menekankan bahwa rendahnya inflasi tidak selalu berarti daya beli masyarakat membaik, apalagi jika ditopang oleh konsumsi yang melemah.

 

Di sisi lain, data ekspor dan pariwisata turut memberi warna positif. Nilai ekspor Jawa Timur per Maret 2025 mencapai Rp6,13 triliun, tumbuh 0,10 persen dibanding Februari. Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Jawa Timur dari Januari hingga Maret tercatat 56.971 orang — tertinggi se-Jawa.

 

Khofifah berharap tren ini menjadi momentum memperkuat posisi Jawa Timur sebagai “Gerbang Baru Nusantara”. Namun, berbagai pihak menilai, klaim keberhasilan perlu dibarengi evaluasi serius atas kebijakan subsidi energi dan upaya nyata menguatkan konsumsi domestik. (why)

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights