Blitar, Nusantaradigital.online – Bencana longsor kembali melanda wilayah Kesamben, Blitar, Jawa Timur. Berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, kejadian tersebut terjadi pada Minggu sore (30/6), sekitar pukul 04.30 WIB, bencana tanah longsor menimpa 4 pekerja kandang ayam di Desa Bumirejo, Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar.

Menurut Kepala BPBD Jawa Timur, melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Satriyo Nurseno, longsor ini mengakibatkan 3 korban tertimbun dan sudah terselamatkan 2 orang, satunya masih dalam pencarian. “Kami menerima laporan bahwa di belakangnya kandang ayam itu memang kering, mungkin tanahnya berongga kemudian menjadi longsor, untuk yang masih hilang kita tunggu sampai 7 hari pencarian” ujarnya saat ditemui lintas Senin.
BPBD Jawa Timur telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) ke lokasi kejadian. Selain personel, BPBD Jatim juga membawa peralatan pencarian korban seperti skop, chainsaw, masker, dan kantong jenazah serta bantuan dukungan logistic untuk dapur umum, berupa paket makanan siap saji, tambahan gizi, dan selimut.
Berdasarkan update penanganan di lokasi kejadian, dari 4 korban yang tertimpa longsor 2 orang telah ditemukan minggu malam dalam kondisi meninggal dunia , atas nama Jarianto(62) dan Mugiono (69). Sedangkan satu orang, ditemukan dalam kondisi luka ringan atas nama Anto (23). Sedangkan 1 orang lagi masih dalam proses pencarian , yakni atas nama Gunawan (45).
Longsor dengan ketinggian 20 m dan lebar 40 m dengan kedalaman 5 m, dengan luas area mencapai 250 m. Menurut Satriyo longsoran yang terjadi di Blitar ini bukan longsoran yang bergerak dan cuma satu area. Ada banyak indikator daerah rawan longsor, pertama adalah tanahnya biasanya tanah dengan spesifikasi apakah tanah baru, lempung atau berongga, yang kedua biasanya sering lama tidak terkena hujan jadi tanahnya menjadi kering dan tandus yang ketiga kemiringan, kemiringannya tidak terlalu miring. “Di Blitar ini agak curam, karena banyak yang dikeruk sisinya sehingga rawan longsor, kemungkinan karena memang struktur tanahnya yang tidak bagus karena selain kering juga agak berongga dan memang lokasi tanahnya juga curam sekali berupa tebing sehingga memang rawan longsor, ada pemicunya sedikit saja bisa longsor,”ungkapnya.
BPBD Jawa Timur juga mengimbau warga untuk tetap waspada dan segera melapor jika melihat tanda-tanda longsor susulan. “Kami minta masyarakat untuk selalu siaga dan mengikuti arahan dari petugas di lapangan demi keselamatan bersama,”katanya.
Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi dan pembersihan material longsor masih berlangsung. Tim BPBD Jawa Timur terus melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan penanganan bencana ini berjalan lancar dan efektif.
Harapannya kedepan masyarakat juga harus ikut peduli wilayah sekitarnya, dengan berinisiatif terhadap tempat yang rawan bencana dengan memberikan tanda berupa rawan bencana dan juga menanam tanaman agar tidak kering dan tandus. “ Tidak hanya sekedar melihat oh biasa, tapi juga harus melihat bahwa kita berada di pegunungan yang curam, dan tidak ada tanamannya, berarti ini nanti kemungkinan rawan longsor jadi harus hati-hati,”harapnya.
Ditambahkan Kabid KL ini dari RT/RW atau desa bisa berupaya untuk memberikan mitigasi struktural secara mandiri misalnya dengan menggunakan anggaran dana desa. “Kami di BPBD sebagai petugas baik dinsos, BPBD maupun basarnas tidak serta merta berada di lokasi kebencanaan yang rawan setiap hari, butuh waktu ke lokasi terjadi bencana, kepedulian masyarakat di alam sekitar di area yang rawan longsor itu menjadi hal yang harus bisa dioptimalkan, karena mereka yang pertama kali menghadapi itu yaitu area yang rawan baik longsor, banjir mungkin puting beliung, dan kekeringan. Kita juga mengecek tempat terjadi longsor, kenapa disitu dibuat kandang ayam dimana adalah daerah rawan longsor,”tutup Satriyo. (why)

