Surabaya, Nusantaradigital.online – Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupaya mempertemukan kebutuhan dunia industri dengan kompetensi pencari kerja melalui Job Fair Inklusif 2026. Kegiatan yang digelar di Grand City Surabaya Convention Hall, 29–30 Oktober 2026, tersebut menghadirkan 102 perusahaan dengan total 4.807 lowongan pekerjaan, termasuk kesempatan bagi penyandang disabilitas.
Job Fair Inklusif 2026 merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur. Kegiatan ini mengusung tema Your Skill, Your Opportunities, Your Brighter Future dan dilaksanakan secara hybrid, yakni melalui layanan tatap muka serta virtual.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Timur, Sigit Priyanto, dalam laporannya menyampaikan bahwa pelaksanaan job fair melibatkan 66 perusahaan pada layanan offline dengan 491 jabatan dan 3.109 lowongan pekerjaan. Dari jumlah tersebut, tersedia 67 kesempatan magang dan 104 lowongan bagi penyandang disabilitas.
Sementara itu, job fair virtual yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 6 November 2026 diikuti 23 perusahaan dengan 227 jabatan dan 1.698 lowongan pekerjaan. Di dalamnya terdapat tiga kesempatan magang dan 62 lowongan untuk penyandang disabilitas.
Dengan demikian, total terdapat 102 perusahaan yang berpartisipasi, menyediakan 718 jabatan dan 4.807 lowongan pekerjaan.
Sigit mengatakan, kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana penyediaan informasi lowongan kerja, tetapi juga mempertemukan perusahaan dengan kandidat potensial sesuai kebutuhan industri.
“Job fair ini dimaksudkan untuk mendukung program Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menurunkan tingkat pengangguran terbuka. Sekaligus membantu perusahaan menemukan kandidat yang sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja,” ujarnya.
Pelaksanaan kegiatan tersebut juga berkolaborasi dengan Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair). Menurut Sigit, sinergi dengan berbagai pihak diharapkan mampu memperluas akses kesempatan kerja bagi masyarakat, termasuk lulusan baru dan kelompok penyandang disabilitas.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat membuka kegiatan menyoroti pentingnya kesesuaian antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha. Menurutnya, persoalan ketenagakerjaan tidak cukup diselesaikan hanya dengan mempertemukan pencari kerja dan perusahaan, tetapi juga membutuhkan penguatan keterampilan.
Khofifah mengingatkan pentingnya membangun kembali konsep link and match antara dunia pendidikan dan industri. Kurikulum serta keterampilan yang diberikan kepada peserta didik harus mampu mengikuti perkembangan kebutuhan pasar kerja.
Ia juga menekankan perlunya program upskilling atau peningkatan keterampilan dan reskilling atau pembelajaran keterampilan baru agar tenaga kerja mampu beradaptasi dengan perubahan dunia industri.
“Bagaimana sesungguhnya kita membangun kesinambungan dari yang kita siapkan dengan yang dibutuhkan. Dari dulu tidak berubah, zaman Pak Habibie sudah ada istilah link and match,” kata Khofifah.
Menurut Khofifah, dinamika global, perkembangan teknologi, serta perubahan kebutuhan industri menuntut tenaga kerja untuk terus meningkatkan kemampuan. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, perguruan tinggi, dan sektor usaha perlu diperkuat.
Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap keterlibatan penyandang disabilitas dalam kegiatan tersebut. Khofifah berharap perusahaan semakin terbuka menyediakan kesempatan kerja yang setara bagi seluruh masyarakat berdasarkan kemampuan dan kompetensi masing-masing.
Sementara itu, Direktur Bina Penempatan Tenaga Kerja Kementerian Ketenagakerjaan RI, Isna Arti Hasan, mengingatkan bahwa persoalan ketenagakerjaan saat ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, tetapi juga kesenjangan kompetensi atau mismatch antara pencari kerja dan kebutuhan perusahaan.
Ia menyebutkan, berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, sekitar 54 persen perusahaan di Indonesia mengidentifikasi keterampilan sebagai salah satu persoalan utama bisnis. Sementara 48 persen perusahaan mengaku kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai.
Menurutnya, pendekatan penempatan tenaga kerja ke depan perlu lebih mengutamakan keterampilan dan kompetensi dibandingkan sekadar latar belakang pendidikan formal.
“Keterampilan atau skill adalah mata uang universal yang sesungguhnya,” ujarnya.
Isna juga mengajak para pencari kerja untuk percaya diri menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Di sisi lain, perusahaan diharapkan membangun lingkungan kerja yang ramah terhadap penyandang disabilitas.
Manfaat kegiatan ini dirasakan langsung oleh salah satu peserta, Nana, yang datang untuk mencari peluang pekerjaan baru. Ia mengaku sebelumnya pernah bekerja di PTPN dan terminal petikemas di Jakarta selama lebih dari satu tahun.
Setelah memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya, Nana kembali mencari kesempatan kerja, khususnya di sektor kepelabuhanan dan terminal petikemas.
Menurut Nana, keikutsertaannya dalam Job Fair Inklusif 2026 menjadi pengalaman pertama. Ia memperoleh informasi kegiatan tersebut melalui kampus Universitas Airlangga.
Nana menilai sistem pendaftaran secara daring yang dilanjutkan dengan kehadiran langsung di lokasi memberikan kemudahan bagi pencari kerja. Peserta juga berkesempatan bertemu langsung dengan pihak perusahaan atau perekrut untuk memperoleh informasi mengenai lowongan yang tersedia.
Ia berharap semakin banyak perusahaan yang berpartisipasi dan memperbarui informasi lowongan pekerjaan sehingga pilihan bagi pencari kerja semakin beragam.
Menurut Nana, kesempatan bertemu langsung dengan perekrut menjadi nilai tambah dibandingkan hanya mengandalkan informasi lowongan melalui platform daring.
Sebagai tindak lanjut, Disnakertrans Jatim juga menyiapkan rangkaian job fair di 16 Unit Pelaksana Teknis Balai Latihan Kerja (UPT BLK) selama November 2026. Kegiatan tersebut diperkirakan melibatkan 240 perusahaan dengan sekitar 4.350 lowongan kerja, baik dalam maupun luar negeri.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Pemprov Jatim berharap akses informasi pekerjaan semakin luas dan proses pertemuan antara pencari kerja dengan perusahaan dapat berjalan lebih efektif. (why)

