Kepala Bidang Kelembagaan dan Pengawasan Diskop UKM Jatim Nanang Abu Hamid.
Nganjuk, nusantaradigital.online– Regenerasi menjadi salah satu tantangan yang perlu dijawab koperasi di tengah perubahan pola usaha dan perkembangan teknologi. Karena itu, generasi muda mulai dikenalkan bukan hanya pada kewirausahaan, tetapi juga pada koperasi sebagai model usaha yang dapat dibangun secara bersama.
Upaya tersebut dilakukan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur (Diskop UKM Jatim) melalui Jambore Santripreneur dan Koperasi Siswa di Jolotundo Glamping & Edu Park, Kabupaten Nganjuk, 16–17 September 2026.
Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari 20 peserta Koperasi Siswa dan 20 peserta Santripreneur yang berasal dari 10 tim terbaik pada masing-masing kategori. Peserta didampingi guru maupun ustadz/ustadzah pembimbing.
Dengan mengusung slogan “Entrepreneur Start Here, Bangun Bisnismu Sejak Dini”, kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai kompetisi. Peserta juga mendapatkan ruang untuk mengembangkan ide usaha, berkolaborasi, membangun jejaring sekaligus mengenal prinsip koperasi.
Ketua Tim Kerja Penyuluhan dan Advokasi Hukum Diskop UKM Jatim Imam Hamadi Wijaya mengatakan, kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai kewirausahaan sekaligus koperasi.
Ada dua tujuan yang hendak dicapai, yakni membekali santri dan siswa dengan pemahaman entrepreneurship sebagai persiapan memasuki dunia usaha maupun dunia kerja serta memperkenalkan koperasi sebagai wadah usaha bersama yang berlandaskan gotong royong dan kekeluargaan.
Regenerasi Jadi Tantangan Koperasi
Kepala Bidang Kelembagaan dan Pengawasan Diskop UKM Jatim Nanang Abu Hamid mengatakan, keterlibatan anak muda menjadi bagian penting dalam keberlanjutan koperasi di Jawa Timur.

Menurut dia, Jawa Timur memiliki sekitar 30.000 koperasi dari sekitar 230.000 koperasi di Indonesia. Besarnya jumlah tersebut perlu diikuti dengan keterlibatan generasi muda agar koperasi mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Koperasi ke depan harus mampu menjadi badan usaha yang besar, modern, dan mampu bersaing. Karena itu, anak-anak muda harus mulai mengenal koperasi dan ikut membangun masa depannya,” ujar Nanang.
Ia menilai koperasi juga tidak bisa mengabaikan perkembangan teknologi maupun isu lingkungan. Digitalisasi dan penerapan konsep go-green menjadi bagian yang perlu diperhatikan agar koperasi tetap relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.
Bagi peserta jambore, pengenalan koperasi juga dikaitkan dengan pengalaman membangun usaha. Nanang mendorong anak muda untuk tidak ragu mencoba ide bisnis, termasuk ketika kemungkinan gagal tetap terbuka.
“Jangan takut mencoba. Kalau mengalami kegagalan, itu bagian dari proses belajar. Amati, tiru, modifikasi, kemudian kembangkan menjadi sesuatu yang lebih baik dan lebih sesuai dengan kreativitas kalian,” katanya.
Koperasi sebagai Wadah Talenta Anak Muda
Pemahaman mengenai koperasi kemudian diperluas melalui materi yang disampaikan Anggara Jaya Wardhana, co-founder Koperasi Jasa Multipihak Let’s Play Game Studio sekaligus Ketua LPENK Kota Batu.
Anggara memperkenalkan koperasi dari perspektif yang lebih dekat dengan dunia anak muda. Menurut dia, koperasi tidak semata-mata menjadi tempat menghimpun anggota, tetapi dapat menjadi wadah untuk menggabungkan berbagai kemampuan menjadi sebuah usaha bersama.
“Di koperasi, kita tidak hanya menjadi pengguna atau konsumen. Kita juga menjadi bagian dari pemilik usaha. Jadi, ketika usaha koperasi berkembang, anggota juga ikut merasakan manfaatnya melalui pembagian Sisa Hasil Usaha atau SHU sesuai dengan kontribusinya,” jelas Anggara.
Konsep tersebut, lanjut dia, memungkinkan anak muda dengan keahlian berbeda untuk bekerja dalam satu ekosistem usaha.
Mereka yang memiliki kemampuan teknologi, pemasaran, produksi hingga kreativitas dapat mengambil peran sesuai kompetensinya.
“Anak muda memiliki banyak talenta dan kemampuan yang berbeda-beda. Koperasi bisa menjadi wadah untuk menyatukan talenta tersebut menjadi sebuah kekuatan usaha bersama,” imbuhnya.
Pendekatan pembelajaran pun dibuat lebih dekat dengan karakter generasi muda. Let’s Play Game Studio memperkenalkan permainan edukatif seperti Kopsis Story dan Kopmar Story untuk membantu peserta memahami konsep koperasi dan kewirausahaan.
Dari permainan tersebut, peserta juga diajak melihat kesamaan pola pikir antara gamer dan entrepreneur, terutama dalam menghadapi kegagalan.
“Seorang gamer ketika gagal dalam sebuah permainan tidak berhenti begitu saja. Dia mencoba lagi, mengevaluasi kesalahannya, kemudian mencari strategi baru. Mental seperti itu juga dibutuhkan seorang entrepreneur,” ungkap Anggara.
Ide Usaha Diuji di Hadapan Juri
Pemahaman yang diperoleh peserta kemudian diuji melalui presentasi bisnis. Setiap tim memperoleh waktu 22 menit yang terdiri atas 10 menit untuk menyampaikan pitch deck atau proposal bisnis, 10 menit sesi tanya jawab bersama dewan juri dan dua menit untuk transisi.
Dewan juri berasal dari berbagai unsur, mulai perangkat daerah, perguruan tinggi, Dekopinwil Jatim, Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur, Sekretariat OPOP Jatim hingga OPOP Training Center ITS.
Dari proses tersebut akan ditentukan Juara 1, 2, dan 3 serta satu Juara Harapan. Peserta yang belum memperoleh posisi juara tetap mendapatkan sertifikat partisipasi sebagai bentuk apresiasi atas keterlibatan mereka. (why/humas diskop jatim)

