Dari Senyum hingga Tangan yang Loman, Menjaga Teladan Nabi di Keputran Panjunan

Grup Samroh Az-Zahra turut menghidupkan suasana sebelum jamaah memasuki rangkaian utama acara.

 

Surabaya, nusantaradigital.online – Suara lantunan samroh terdengar mengisi suasana di tengah lingkungan warga Keputran Panjunan, Kelurahan Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya, Kamis (10/9/2026).

Puluhan jamaah berkumpul bukan sekadar untuk menghadiri sebuah acara keagamaan. Mereka datang dalam sebuah kebiasaan yang terus dijaga: memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW bersama-sama.

Sekitar 50 jamaah Al Karomah mengikuti peringatan Maulid Nabi yang tahun ini dikemas lebih meriah. Grup Samroh Az-Zahra turut menghidupkan suasana sebelum jamaah memasuki rangkaian utama acara.

Bagi Jamaah Al Karomah, Maulid Nabi bukan kegiatan yang baru dilakukan sekali. Peringatan tersebut merupakan agenda rutin yang setiap tahun dilaksanakan bersama. Hanya saja, tahun ini suasananya dibuat lebih semarak dengan menghadirkan penceramah dan rangkaian acara yang lebih lengkap.

Ketua panitia, Suwarti, mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk berkumpul dan mempererat silaturahmi. Sejumlah tetangga kanan dan kiri juga diundang untuk hadir.

“Iya, Maulid rutin. Bedanya, yang ini dikemas lebih meriah. Biasanya kita hanya biasa-biasa saja merayakannya,” ujar Suwarti.

Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan dzikir jama’i dan rangkaian pra-acara. Setelah penampilan Grup Samroh Az-Zahra, jamaah kemudian mengikuti tausiyah yang disampaikan KH Abi Sumbri.

Dihadapan jamaah, KH Abi Sumbri membawa pesan yang sederhana, tetapi dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia berbicara tentang akhlak dan ciri-ciri orang yang diharapkan menjadi penghuni surga.

Bukan sesuatu yang rumit.

Ia mengajak jamaah membiasakan diri tersenyum, menjaga lisan agar berkata baik, senang merendahkan hati atau bersikap rendah hati, memiliki hati yang bersih, serta mempunyai tangan yang loman—ringan membantu dan berbagi kepada sesama.

Pesan tentang lisan, misalnya, menjadi pengingat bahwa kebaikan seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang dilakukan, tetapi juga dari apa yang keluar dari mulutnya. Begitu pula dengan hati yang bersih, yang menjadi dasar seseorang dalam memperlakukan orang lain.

Sementara “tangan yang loman” mengajarkan bahwa kebaikan tidak cukup hanya dibicarakan. Ia harus diwujudkan dalam tindakan—membantu ketika ada yang membutuhkan dan berbagi ketika memiliki kemampuan.

Disitulah peringatan Maulid Nabi menemukan maknanya. Mengenang Rasulullah SAW tidak berhenti pada kemeriahan acara, lantunan samroh, atau tausiyah yang didengarkan bersama.

Ada pekerjaan yang lebih panjang setelah acara selesai: membawa pulang keteladanan itu ke dalam kehidupan sehari-hari.

Suwarti berharap pesan yang disampaikan dalam peringatan Maulid tersebut dapat terus diterapkan oleh jamaah.

“Harapannya kita bisa meneladani apa yang dikerjakan Rasulullah,” katanya.

Bagi warga dan Jamaah Al Karomah, menjaga tradisi Maulid juga berarti menjaga ruang untuk berkumpul, bersilaturahmi dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Ditengah lingkungan perkotaan yang terus bergerak, tradisi sederhana semacam itu menjadi cara warga mempertahankan kedekatan satu sama lain.

Dan mungkin, seperti pesan KH Abi Sumbri malam itu, keteladanan Nabi memang tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Bisa dari senyum. Dari lisan yang dijaga. Dari hati yang dibersihkan. Dan dari tangan yang ringan membantu sesama.(fit)

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights