Muhammad Fadil Akbar (paling kiri), saat mencoba membuat kopi.
Surabaya, nusantaradigital.online – Aroma kopi mungkin kelak menjadi bagian dari keseharian Muhammad Fadil Akbar. Namun bagi pemuda 23 tahun itu, kopi bukan sekadar minuman. Di balik secangkir kopi, ia melihat sebuah peluang untuk membuka ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas.
Akbar sedang menyiapkan satu mimpi: memiliki kedai kopi sendiri.
Bukan kedai kopi biasa. Ia ingin tempat itu menjadi ruang yang ramah bagi penyandang disabilitas sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk bekerja dan mengembangkan kemampuan.
Mimpi tersebut tumbuh ketika Akbar mengikuti pelatihan barista di Galeri Disabilitas Kinasih dan UPT (GADISku) Surabaya. Di tempat itu, ia tidak hanya belajar bagaimana meracik kopi, tetapi juga mendapatkan gambaran tentang keterampilan yang bisa menjadi bekal untuk memasuki dunia kerja.
“Kalau saya membuka kedai kopi sendiri, saya ingin bisa memberdayakan teman-teman disabilitas lainnya dan membuka peluang yang lebih luas,” ujar Akbar.
Keinginan itu tidak muncul begitu saja.
Akbar merupakan mahasiswa S1 Pendidikan Khusus Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Ia dijadwalkan menyelesaikan pendidikannya pada Oktober 2026. Selama kuliah, ia banyak bersentuhan dengan dunia pendidikan dan pendampingan penyandang disabilitas.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami bahwa kemampuan penyandang disabilitas tidak berhenti pada keterbatasan yang dimiliki.
Yang dibutuhkan, menurut dia, adalah kesempatan.
Karena itu, ketika mengenal GADISku sekitar satu tahun lalu, Akbar memanfaatkannya untuk menambah keterampilan. Tidak hanya pelatihan barista, ia juga pernah mengikuti pelatihan digital marketing.
Kini, keterampilan tersebut ingin ia jadikan modal untuk melangkah lebih jauh.

“Saya berharap setelah mengikuti pelatihan ini bisa langsung bekerja. Tapi kalau belum mendapat kesempatan, saya ingin membuka usaha sendiri,” katanya.
Bukan Sekadar Bisa Membuat Kopi
Bagi Akbar, pelatihan barista bukan sekadar mengajarkan cara membuat kopi.
Ia ingin memahami lebih banyak hal yang berkaitan dengan dunia usaha. Mulai dari mengenal peralatan barista, mengolah minuman, hingga memahami bagaimana sebuah kedai dapat dikelola.
Sebab, jika kesempatan bekerja belum datang, ia ingin menciptakan kesempatan itu sendiri.
Mimpi membuka kedai kopi menjadi pilihan yang menurutnya realistis sekaligus memiliki nilai sosial. Ia membayangkan tempat tersebut bukan hanya menjadi ruang untuk menikmati kopi, tetapi juga menjadi tempat bertemu, belajar dan bekerja bagi penyandang disabilitas.
Latar belakangnya sebagai mahasiswa Pendidikan Khusus membuatnya memiliki kedekatan tersendiri dengan persoalan tersebut.
Ia ingin membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga memiliki kemampuan untuk bekerja dan berkarya ketika mendapatkan ruang serta kesempatan yang sesuai.
“Harapannya pelatihan seperti ini bisa terbuka lebih luas untuk teman-teman disabilitas lainnya yang membutuhkan lapangan pekerjaan,” tuturnya.
Akbar sadar, jalan menuju kedai kopi impiannya masih panjang. Setelah menyelesaikan kuliah, ia harus mencari pengalaman, memperkuat keterampilan dan mengumpulkan modal.
Namun setidaknya, langkah pertamanya sudah dimulai.
Dari sebuah pelatihan barista, ia belajar lebih dari sekadar meracik kopi. Ia sedang menyiapkan bekal untuk masa depan yang ingin dibangunnya sendiri.
Dan jika suatu hari kedai itu benar-benar berdiri, Akbar berharap aroma kopi yang keluar dari dalamnya bukan hanya menandai sebuah usaha baru.
Tetapi juga menjadi tanda bahwa kesempatan bekerja bagi penyandang disabilitas bisa diciptakan, diperjuangkan dan dibuka bersama.(why)

