BPBD Jatim dan Museum Mpu Tantular Hadirkan Edukasi Kebencanaan Inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Surabaya, Nusantaradigital.online – Mengisi masa libur sekolah tahun 2026 dengan kegiatan yang edukatif dan bermanfaat, UPT Museum Negeri Mpu Tantular Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur menggelar kegiatan Sosialisasi Kebencanaan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Kegiatan yang berlangsung di Museum Negeri Mpu Tantular ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan museum tidak hanya sebagai tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga sebagai ruang belajar yang inklusif, aman, dan menyenangkan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Melalui kolaborasi tersebut, para peserta mendapatkan berbagai materi dan praktik mitigasi bencana secara interaktif. Edukasi meliputi pengenalan langkah-langkah pengurangan risiko bencana, simulasi penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), praktik evakuasi korban, pengenalan pertolongan pertama, hingga pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat.

Semangat belajar yang ditunjukkan anak-anak berkebutuhan khusus selama mengikuti kegiatan menjadi inspirasi bagi seluruh peserta dan pendamping. Dengan pendekatan yang interaktif, edukasi kebencanaan diharapkan lebih mudah dipahami sekaligus menumbuhkan budaya sadar bencana sejak usia dini.

Selain memberikan pemahaman kepada peserta, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kesiapan pengelola museum dalam memberikan layanan publik yang aman, nyaman, dan tanggap terhadap potensi bencana. Upaya tersebut sejalan dengan komitmen menjadikan museum sebagai ruang publik yang memiliki standar keselamatan bagi seluruh pengunjung.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan edukasi kebencanaan harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk penyandang disabilitas dan anak berkebutuhan khusus.

“Mitigasi bencana merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, edukasi kesiapsiagaan perlu diberikan kepada semua kalangan dengan metode yang mudah dipahami dan menyenangkan, sehingga setiap orang memiliki kemampuan untuk melindungi diri ketika terjadi bencana,” ujarnya.

Sementara itu, kolaborasi antara Disbudpar Jatim dan BPBD Jatim diharapkan dapat semakin mengoptimalkan fungsi museum sebagai pusat edukasi publik yang inklusif. Selain menjadi destinasi wisata sejarah, museum juga diharapkan mampu menjadi sarana pembelajaran mengenai keselamatan, kesiapsiagaan, dan pengurangan risiko bencana bagi masyarakat.(why)

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights