Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur, Sigit Priyanto.
Bojonegoro, Nusantaradigital.online – Ditengah tuntutan efisiensi anggaran dan tingginya tekanan pasar kerja, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan bahwa pelatihan vokasi tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Balai Latihan Kerja (BLK) dituntut menjadi simpul strategis penempatan tenaga kerja yang benar-benar berdampak.
Pesan tersebut mengemuka dalam pembukaan Pelatihan Berbasis Kompetensi Tahap I Tahun 2026 di UPT BLK Bojonegoro, Senin (9/2/2026), yang dibuka langsung oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur, Sigit Priyanto.
Dalam sambutannya, Sigit menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pelatihan bukan jumlah peserta atau lamanya pelatihan, melainkan seberapa besar lulusan terserap dunia kerja atau mampu menciptakan usaha mandiri.
“Pelatihan dianggap berhasil jika peserta bekerja atau berwirausaha. Titik akhirnya bukan di ruang kelas, tapi di pasar kerja,” tegasnya.
Berdasarkan data ketenagakerjaan Jawa Timur, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Agustus 2025 berada di angka 3,88 persen, turun 0,31 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun, tantangan ketenagakerjaan dinilai semakin kompleks seiring perubahan kebutuhan industri dan percepatan transformasi ekonomi.

Karena itu, Disnakertrans Jatim menekankan pentingnya pelatihan berbasis kebutuhan riil industri. Di BLK Bojonegoro, pelatihan tahap pertama tahun ini difokuskan pada empat kejuruan strategis, yakni pembuatan roti dan kue, practical office advance, operator forklift, serta pipe welder SMAW 6G.
Sebanyak 64 peserta terpilih mengikuti pelatihan dari total 1.166 pendaftar, menunjukkan tingginya minat masyarakat sekaligus ketatnya seleksi.
Kepala UPT BLK Bojonegoro, Wahyu Krisdihantoro, menyampaikan bahwa orientasi penempatan kerja menjadi prioritas utama. Bahkan, untuk pelatihan operator forklift, kebutuhan tenaga kerja telah dipetakan sejak awal.
“Untuk forklift, penempatan alumninya sudah jelas. Bahkan sebagian sudah dipesan industri sebelum pelatihan selesai,” ujarnya.
Ia menyebut, pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan hasil konkret, dengan tingkat penyerapan lulusan forklift mencapai 100 persen. Sementara lulusan las banyak terserap di sektor migas dan pertambangan, baik di wilayah lokal maupun luar Jawa.
Tak hanya hard skill, pelatihan juga diarahkan membentuk sikap kerja dan soft skill peserta. Menurut Sigit, dunia kerja saat ini tidak hanya mencari tenaga terampil, tetapi juga pekerja yang disiplin, adaptif, dan mampu bekerja sama.
“Kompetensi teknis harus dibarengi etos kerja dan karakter. Itu yang membuat lulusan BLK mampu bertahan dan berkembang,” katanya.
Pelatihan yang berlangsung hingga Mei 2026 ini akan ditutup dengan uji sertifikasi BNSP dan dilanjutkan tracer study untuk memastikan outcome penempatan kerja. Langkah ini dinilai penting agar program pelatihan benar-benar akuntabel dan tidak sekadar menghabiskan anggaran. (why)

