Sidoarjo, Nusantaradigital.online — Memasuki masa pancaroba, BMKG mencatat curah hujan di sejumlah wilayah Jawa Timur mulai meningkat sejak September. Dalam beberapa pekan terakhir, sudah terjadi banjir dan longsor di beberapa kabupaten/kota, termasuk Pasuruan, Gresik, dan Trenggalek.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa fase pancaroba saat ini harus diwaspadai karena ancaman cuaca ekstrem dapat muncul bersamaan dengan sisa kekeringan di beberapa daerah.

“Di Jawa Timur saat ini masih ada wilayah yang mengalami kekeringan, tetapi di saat yang sama sudah ada daerah lain yang banjir dan longsor karena hujan mulai turun,” kata Gatot, Jumat (14/11).
Menurut informasi BMKG, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2026. Namun sejak September, sejumlah wilayah sudah mengalami hujan dengan intensitas tinggi sehingga memicu banjir dan longsor.
“Hingga hari ini beberapa wilayah masih banjir seperti Pasuruan dan Gresik. Di Trenggalek kemarin juga sudah terjadi longsor. Artinya masyarakat harus berhati-hati selama masa pancaroba ini,” ujarnya.
BPBD Jatim mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan, terutama bantaran sungai dan lereng perbukitan, untuk mulai melakukan langkah-langkah antisipasi. Gatot meminta warga menjaga barang berharga, menyimpan di lokasi aman, serta memerhatikan lokasi aktivitas jika harus keluar rumah.
“Masyarakat harus mengantisipasi potensi ancaman di sekitar. Kalau tinggal di daerah yang sering banjir, harta benda perlu diamankan di tempat lebih tinggi. Kalau beraktivitas di luar, harus membawa jas hujan, sepatu boot, atau perlengkapan lain yang dibutuhkan,” katanya.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemda telah berkolaborasi menangani ancaman hidrometeorologi. Salah satu contohnya adalah kegiatan pembersihan sungai di kawasan Gunung Anyar, Surabaya, yang melibatkan BPWS, Pemprov Jatim, Kota Surabaya, dan Kabupaten Sidoarjo.
Selain itu, BPBD Jatim telah mengirim surat kepada seluruh kabupaten/kota dan Sekda agar bersiap menghadapi potensi banjir dan bencana hidrometeorologi.
“Kita meminta kabupaten/kota menyiapkan sarana prasarana seperti logistik, perahu karet, pelampung, dan personel lapangan. Semua harus siap sejak awal,” jelas Gatot.
Gatot juga mengingatkan bahwa upaya pencegahan tidak akan efektif tanpa partisipasi masyarakat. Ia meminta warga tidak membuang sampah sembarangan di sungai, tidak menebang pohon sembarangan, serta menjaga kebersihan selokan, irigasi, dan drainase di sekitar permukiman.
“Kalau got dan sungai tersumbat, risiko banjir makin besar. Ini bukan hanya urusan pemerintah, tapi harus jadi kesadaran bersama,” tegasnya.
Pemerintah pusat melalui BNPB juga telah merespons awal potensi bencana di Jawa Timur. Beberapa bantuan logistik telah dikirim ke daerah terdampak, termasuk personel untuk melakukan pemetaan dan asesmen kebutuhan di lapangan.
“BNPB sudah memberikan bantuan ke beberapa wilayah di Jatim dan mengirim personel ke lokasi-lokasi bencana untuk melihat perkembangan kondisi dan kebutuhan di daerah,” kata Gatot.
Di tingkat daerah, sejumlah kabupaten/kota juga telah melakukan normalisasi sungai dan patroli di wilayah rawan, terutama kawasan yang berpotensi longsor.
Gatot menegaskan, penanganan bencana tidak berhenti pada respon darurat. Pencegahan harus dilakukan sejak sekarang agar dampak bencana dapat ditekan.
“Pancaroba ini masa transisi yang rawan. Pemerintah bekerja, tetapi masyarakat juga harus ikut berperan. Menjaga lingkungan, waspada, dan saling mengingatkan. Itu kunci mengurangi risiko,” pungkasnya. (why)
