Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur, Nyono
Surabaya, Nusantaradigital.online – Kepadatan arus kendaraan di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk menjadi perhatian pemerintah menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027. Untuk mengurangi ketergantungan pada jalur tersebut, pemerintah menyiapkan alternatif penyeberangan yang menghubungkan Jawa Timur dengan wilayah Bali bagian barat.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur, Nyono, mengatakan rencana pembukaan jalur alternatif tersebut merupakan program Kementerian Perhubungan. Langkah ini juga merupakan usulan Gubernur Jawa Timur kepada pemerintah pusat agar beban penyeberangan Ketapang-Gilimanuk dapat terbagi melalui jalur laut lainnya.
Hal tersebut disampaikan Nyono saat ditemui di DPRD Jawa Timur, Kamis (5/11/2026). Menurutnya, skema yang disiapkan melibatkan pengoperasian kapal dari Jakarta menuju Celukan Bawang, Bali. Dengan adanya jalur tersebut, kendaraan yang menuju Bali diharapkan memiliki alternatif perjalanan tanpa harus seluruhnya melewati lintasan Ketapang-Gilimanuk.
“Ini program dari Kementerian Perhubungan untuk membantu mengurangi beban Ketapang-Gilimanuk. Gubernur juga sudah memohon kepada Pak Menteri agar rute alternatif ini dioperasionalkan,” ujarnya.
Dalam rencana tersebut, pemerintah pusat diperkirakan menyiapkan satu hingga dua kapal untuk melayani penyeberangan. Kapal yang digunakan harus memiliki spesifikasi sesuai karakteristik perairan dan kebutuhan angkutan kendaraan.
Nyono menyebut kapasitas kapal diperkirakan mampu mengangkut sekitar 200 penumpang serta 20 hingga 30 kendaraan kecil. Namun, kepastian jumlah armada, kapasitas angkut, dan pola operasional masih menunggu kebijakan lebih lanjut dari Kementerian Perhubungan.
Di sisi lain, Dishub Jatim juga menyoroti persoalan pasang surut air laut yang selama ini memengaruhi operasional dermaga penyeberangan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memperpanjang antrean kendaraan, terutama ketika layanan kapal tidak bisa beroperasi secara optimal.
Nyono mencontohkan antrean kendaraan di lintasan Ketapang-Gilimanuk yang pernah mencapai sekitar 14 kilometer. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan kepadatan tidak cukup hanya mengandalkan penambahan armada, tetapi juga membutuhkan dukungan infrastruktur dermaga.
Karena itu, pembenahan fasilitas penyeberangan juga dilakukan, termasuk pengembangan dermaga dan penggabungan layanan dermaga Landing Craft Machine (LCM). Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pelayanan kendaraan dan mengurangi potensi penumpukan saat terjadi lonjakan penumpang.
Menurut Nyono, sejumlah pekerjaan infrastruktur ditargetkan rampung sebelum periode angkutan Natal dan Tahun Baru sehingga kapasitas pelayanan penyeberangan dapat bertambah.
Pembukaan jalur alternatif dan pembenahan fasilitas penyeberangan tersebut diharapkan menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat pada akhir tahun.
Meski demikian, efektivitas jalur baru nantinya akan sangat bergantung pada kepastian operasional kapal, kapasitas angkut, serta integrasi layanan dengan jalur transportasi darat. Dengan demikian, alternatif penyeberangan tidak hanya menjadi rencana tambahan, tetapi benar-benar dapat mengurai konsentrasi kendaraan di Ketapang-Gilimanuk.(why)

