Lokasi yang disebut warga sebagai tempat aktivitas komunitas merpati di wilayah Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Surabaya. Warga berharap aktivitas tersebut tidak berlangsung di tengah kawasan permukiman. (Dok. warga)
Surabaya, Nusantaradigital.online – Aktivitas adu merpati di wilayah Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Surabaya, tidak hanya menjadi perhatian pemerintah kelurahan, tetapi juga memunculkan keresahan di tingkat warga. Ketua RT 7/RW 8 Kelurahan Wonorejo, Kuntoro, mengatakan aktivitas tersebut sudah berlangsung selama beberapa tahun dan belakangan dinilai semakin berkembang.
Menurut Kuntoro, aktivitas yang pada awalnya dianggap sebagai hobi masyarakat itu kini tidak hanya diikuti warga setempat. Orang dari luar wilayah Wonorejo juga disebut datang ke lokasi.
“Kalau dulu mungkin hobi masyarakat. Tapi sekarang banyak orang dari luar yang datang,” ujar Kuntoro.
Kuntoro mengaku tidak mengetahui secara langsung seluruh aktivitas yang berlangsung di lokasi karena dirinya tidak pernah masuk ke area tersebut. Karena itu, ia memilih tidak memberikan tudingan mengenai apa yang terjadi di dalam lokasi.
Namun, dari sisi lingkungan, keberadaan aktivitas tersebut menurutnya cukup mengganggu kenyamanan warga. Terlebih lokasi berada di kawasan permukiman dan masuk wilayah RT 7/RW 8, serta berdekatan dengan wilayah RT 4.
“Yang kami inginkan lingkungan bersih dan tenang. Jangan sampai kampung ini didatangi orang dari luar terus,” katanya.
Kuntoro juga menyebut terdapat sekitar 25 bekupon yang berkaitan dengan aktivitas merpati di kawasan tersebut. Keberadaan tempat-tempat itu, menurutnya, membuat aktivitas merpati semakin terlihat di lingkungan permukiman.
Keresahan warga, lanjut Kuntoro, bukan semata-mata karena adanya orang yang memiliki hobi memelihara atau melatih burung merpati. Warga lebih berharap aktivitas tersebut tidak berlangsung di tengah permukiman dan tidak mengganggu kehidupan sosial masyarakat sekitar.
Apalagi, kata dia, di lingkungan tersebut terdapat anak-anak. Warga khawatir aktivitas yang berlangsung secara rutin di sekitar mereka justru menjadi tontonan atau kebiasaan yang tidak baik bagi generasi muda.
“Kita kan punya anak-anak. Jangan sampai lingkungan seperti ini malah memengaruhi mereka,” ujarnya.
Menurut Kuntoro, persoalan tersebut sebenarnya pernah mendapat perhatian dan penanganan. Lokasi sempat dibongkar, tetapi beberapa waktu kemudian aktivitas disebut kembali muncul.
Ia berharap pemerintah dan aparat tidak hanya melakukan penertiban sementara, tetapi mencari solusi yang bisa menyelesaikan persoalan secara lebih permanen.
Salah satu harapan warga, kata Kuntoro, adalah agar aktivitas yang berkaitan dengan hobi merpati tersebut apabila memang tetap dilakukan, dapat diarahkan ke lokasi yang jauh dari kawasan permukiman.
“Kami tidak ingin mengganggu orang yang punya hobi. Tapi carikan tempat yang jauh dari kampung, supaya warga juga tenang,” katanya.
Terkait dugaan adanya unsur perjudian dalam aktivitas adu merpati, Kuntoro menegaskan dirinya tidak mengetahui secara langsung mengenai aktivitas di dalam lokasi. Karena itu, ia menyerahkan pembuktian kepada pihak yang berwenang.
Sebelumnya, Lurah Wonorejo Tri Kartika Sari mengatakan dirinya yang baru menjabat sejak sekitar pertengahan Juli 2026 belum menerima laporan warga terkait aktivitas adu merpati.
Sementara itu, persoalan tersebut juga pernah ditangani pada masa pemerintahan lurah sebelumnya pada 2025. Ari Hardini, mantan Lurah Wonorejo, menyebut pernah ada keluhan dan petisi warga yang kemudian ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas unsur. (fit)

