Jember, Nusantaradigital.online Sore di Lapangan Desa Arjasa, desa wisata adat dan edukasi tempat situs megalitikum serta warisan budaya tak benda di Jember, selalu punya cara sendiri untuk bercerita. Di satu sudut, anak-anak TK duduk bersila menggambar dengan krayon di tangan. Di sudut lain, para pemuda bersiap turun dalam lomba ta’buthan, berlari dengan topeng buto yang garang namun mengundang tawa. Malamnya tampil atraksi band anak muda dan seni reog. Di antara keduanya, berjajar stand produk UMKM dengan aroma gorengan, seduhan kopi, kerajinan, dan jajanan khas seperti umumnya pasar malam. Pemandangan itu sederhana, tetapi tetap menyimpan pertanyaan penting:
untuk apa sebenarnya kita merayakan ?
De Oosthoek Festival Vol. 3 yang digelar 30 Oktober hingga 1 November 2026, dalam rangka Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, mencoba menjawab pertanyaan itu dengan cara yang berbeda. Festival ini tidak ingin berhenti sebagai tontonan dan hiburan. Yang diinginkan menjadi ruang tempat budaya hidup, tumbuh, dimiliki, dibanggakan dan diwariskan.
Ujian yang Tidak Bisa Dijawab Tepuk Tangan
Kita akrab dengan festival yang meriah di hari pembukaan, ramai diunggah di media sosial, lalu sunyi tanpa jejak sesudahnya. Panggung dibongkar, spanduk digulung, dan yang tersisa hanya laporan kegiatan. Dalam bahasa birokrasi, acaranya sukses. Dalam kenyataan, belum tentu ada yang berubah.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam sambutan yang bacakan oleh Kepala Bakorwil V Provinsi Jawa Timur di Jember, memberi ukuran yang lebih jujur. Keberhasilan kegiatan, tegasnya, tidak diukur dari kemeriahan, jumlah pengunjung, atau luasnya publikasi, melainkan dari manfaat yang dihasilkan. Apakah UMKM menjual lebih banyak? Apakah seniman mendapat ruang berkembang? Apakah generasi muda memperoleh kesempatan berkarya? Apakah masyarakat semakin bangga pada daerahnya?
“Festival yang baik bukan yang paling ramai, melainkan yang meninggalkan sesuatu setelah panggungnya dibongkar.”
Pertanyaan-pertanyaan itu adalah ujian yang tidak bisa dijawab dengan tepuk tangan. Tuntutan kepada kita, para penyelenggara di pemerintahan khususnya, untuk merancang kegiatan sejak awal dengan orientasi dampak, bukan sekadar agenda apalagi target administrasi.
Tujuh Warna, Satu Kanvas
Kekuatan De Oosthoek terletak pada pertemuannya. Kota Probolinggo, Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi masing-masing membawa warna yang khas: tradisi, kesenian, kuliner, hingga karakter masyarakatnya. Selama ini, kekayaan itu kerap berjalan sendiri-sendiri, dipromosikan dalam kalender masing-masing daerah.
Tujuh warna dimulai dari opening night – the seven colors of oosthoek menjadi representasi keberagaman budaya tujuh daerah. Selanjutnya youth day menjadi ruang bagi generasi muda untuk menampilkan kreativitas dan mengembangkan potensi. sementara itu, harmony morning – one oosthoek, one celebration menjadi simbol kebersamaan melalui kegiatan morning walk, mass cultural performance, dan berbagai rangkaian kegiatan lainnya.
Di sinilah peran koordinasi menjadi nyata. Bakorwil tidak hadir untuk menyeragamkan, tetapi untuk merajut dan merekat. Setiap daerah atau peserta tetap tampil dengan identitasnya, namun berdiri di kanvas yang sama. Hasilnya bukan lagi tujuh peran kecil, melainkan satu narasi besar tentang Ujung Timur Jawa sebagai kawasan budaya yang utuh. Seperti pesan Gubernur, kita boleh berbeda dalam tradisi dan bahasa, tetapi memiliki kebanggaan yang sama sebagai bagian dari provinsi Jawa Timur.
Tiga Pergeseran: Dari Pentas Menuju Pewarisan
Jika ditarik lebih dalam, ada tiga pergeseran cara pandang yang ingin dibangun melalui festival ini.
Pertama, dari tontonan menjadi ruang hidup. Budaya yang hanya dipentaskan akan menua bersama penontonnya. Budaya yang dihidupi akan tumbuh bersama pelakunya. Karena itu, hari kedua festival sepenuhnya diberikan kepada anak-anak dan pelajar, melalui lomba mewarnai, ta’buthan, penanaman pohon, dan pentas seni budaya.
Kedua, dari pewaris pasif menjadi pelaku aktif. Generasi muda tidak cukup diberi ceramah tentang pentingnya melestarikan budaya. Mereka perlu diberi panggung, peran, dan kepercayaan.

Text foto opini pak budi
Anak yang hari ini memakai topeng buto adalah calon penjaga tradisi esok hari, dengan caranya sendiri dan bahasa zamannya sendiri. Kelompok sadar wisata (pokdarwis), tourist information center, SDM pemandu bersertifikat dan akomodasi serta dukungan aparat desa adalah mesin dinamis menunjang status desa wisata adat dan edukasi.
Ketiga, dari seremoni menjadi ekosistem. Tiga puluh stan UMKM dalam Oosthoek Market bukan pelengkap acara. Di sanalah budaya bertemu ekonomi. Ketika kerajinan terjual, kuliner dikenal, dan jejaring usaha terbentuk, pelestarian budaya mendapatkan napas yang panjang. Budaya yang memberi penghidupan akan lebih mudah dirawat daripada budaya yang hanya dikenang. Menariknya diakhir event akan dihitung kalkulasi oksigen yang harus diganti agar ekosistem lingkungan dapat dijaga dan diwariskan.
“Festival adalah bahan bakar; yang menentukan seberapa jauh kita melaju adalah mesin dinamis yang kita bangun sesudahnya.”
Merawat dengan Ukuran yang Jelas
Transformasi semacam ini tidak boleh berhenti sebagai niat baik. Ia perlu ukuran. Berapa transaksi UMKM selama festival? Berapa pelajar yang terlibat dan berapa yang ingin kembali tampil tahun depan? Berapa jejaring baru yang terbentuk antardaerah, antara komunitas, perguruan tinggi, dan dunia usaha? Data sederhana seperti ini akan menentukan apakah De Oosthoek Vol. 4 nanti lebih baik, atau sekadar lebih besar.
Bagi aparatur pemerintah, inilah makna mencintai daerah yang paling konkret: memastikan setiap program meninggalkan manfaat yang bisa dirasakan dan dibuktikan. Semangat Nawa Bhakti Satya, khususnya Jatim Kerja, Jatim Cerdas, dan Jatim Harmoni, menemukan wujudnya justru di ruang-ruang sederhana seperti lapangan desa ini.
Untuk itu, laporan dampak perlu segera disusun: jumlah peserta dan pelajar yang terlibat dan omzet UMKM selama festival. Uniknya di festival the Oosthoek volume 3 ini dihitung volume sampah plastik yang berhasil dipilah dan didaur ulang oleh mahasiswa PKL serta jumlah bibit pohon yang harus ditanam beserta perkiraan serapan karbonnya bagi kelestarian lingkungan.

Laporan semacam ini bukan sekadar pelengkap administrasi. Festival adalah bahan bakar, sedangkan kemampuan kita membaca data, belajar dari kekurangan, dan memperbaiki rancangan kegiatan adalah mesinnya. Tanpa mesin itu, semangat yang menyala tiga hari harmoni festival budaya di Arjasa akan padam bersama dibongkarnya panggung.
Dengan ukuran yang jelas, setiap edisi volume De Oosthoek di masa datang tidak hanya digelar ulang, tetapi tumbuh menjadi lebih bermakna.
Penutup: Jawa Timur Makin Maju dan Sejahtera dari Ujung Timurnya
Jawa Timur yang unggul dan maju tidak dibangun dari satu pusat saja atau dari kota jasa dan pusat industri. Namun tumbuh dari sumbangan setiap wilayahnya, termasuk tujuh daerah di ujung timur Pulau Jawa yang menyimpan kekayaan budaya, potensi wisata, dan semangat ekonomi kerakyatan yang luar biasa. Ketika ketujuhnya bergerak bersama, Ujung Timur Jawa bukan lagi pinggiran, melainkan salah satu motor kemajuan provinsi.
Kemajuan itu hanya akan bertahan jika budayanya punya pewaris. Tugas kita hari ini bukan sekadar menjaga warisan agar tidak hilang, tetapi memastikan warisan itu berpindah tangan dengan baik: dari para sesepuh kepada anak-anak muda, dari panggung festival bertransformasi keseharian, dari kebanggaan sesaat kepada keberlanjutan.
Dari Arjasa, sebuah desa wisata adat dan edukasi, pesan itu kami titipkan. Merawat budaya adalah merawat masa depan. Dan masa depan Jawa Timur, salah satunya, ada yang sedang belajar menari, mewarnai, dan berjualan di lapangan desa ini.
(Ditulis untuk ; kawan-kawan Bakorwil V Jember yang hebat, tetap bersemangat untuk hadir, merekat dan bermanfaat dalam karya dan kinerja lain dimasa datang).
◆ ◆ ◆
Satu Jawa Timur, beragam budaya, satu semangat untuk maju
dan sejahtera bersama.

