Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri.
Surabaya, Nusantaradigital.online – Digembleng selama tiga hari penuh, sebanyak 35 perempuan dari berbagai cabang di Jawa Timur kini siap terjun ke dunia politik. Kegiatan Sekolah Politik Perempuan yang digelar KOHATI Badko HMI Jawa Timur di Asrama Transito Surabaya ini bahkan mendapat perhatian langsung dari Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, yang menegaskan pentingnya momentum bagi perempuan untuk berani mengambil peran di ruang publik.
Program yang berlangsung pada 25–27 April 2026 ini diikuti peserta dari 16 cabang HMI se-Jawa Timur. Tak sekadar pelatihan biasa, kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi gagasan sekaligus pembekalan strategis bagi kader perempuan untuk memahami dinamika politik, kebijakan publik, hingga kepemimpinan.
Ketua Pelaksana, Kholifatul Mardiah, dalam laporannya menyampaikan bahwa tingginya partisipasi peserta menjadi sinyal kuat meningkatnya kesadaran perempuan terhadap pentingnya peran politik. “Sebanyak 35 peserta dari 16 cabang mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias. Kami berharap mereka bisa menjadi pionir perubahan di daerah masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Badko HMI Jawa Timur, Yusfan Firdaus, menegaskan bahwa perempuan hari ini tidak lagi cukup berada di ranah domestik, tetapi harus aktif dalam ruang publik, termasuk politik. Menurutnya, sekolah politik ini merupakan langkah awal untuk membangun kapasitas kader agar mampu mengawal kebijakan yang lebih berpihak pada perempuan.
Dalam forum tersebut juga ditekankan bahwa politik bukanlah ruang yang netral, melainkan sarat nilai dan ideologi. Karena itu, kehadiran perempuan dinilai menjadi faktor penting dalam menciptakan kebijakan yang lebih adil dan inklusif.

Dalam sesi materi, anggota DPR RI sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, Ali Mukti, turut memberikan pandangan terkait posisi perempuan dalam kehidupan sosial dan politik. Ia menekankan pentingnya membangun pemahaman yang utuh mengenai peran perempuan, baik dalam ranah domestik maupun publik.
Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis yang tidak bisa dipisahkan dari laki-laki, melainkan saling melengkapi. Ia juga mengingatkan bahwa diskursus kesetaraan gender perlu dipahami secara proporsional, dengan tetap melihat konteks sosial, budaya, dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.
“Perempuan harus mampu menunjukkan eksistensi dan jati dirinya. Ketika itu dilakukan, maka peran perempuan akan menemukan tempatnya secara alami, termasuk dalam ruang publik dan politik,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa dalam praktiknya, perempuan memiliki peluang yang semakin terbuka di dunia politik, termasuk melalui kebijakan afirmasi keterwakilan 30 persen. Namun demikian, menurutnya, yang terpenting adalah kesiapan kapasitas dan pemahaman peran, agar kehadiran perempuan tidak hanya simbolis, tetapi benar-benar substantif.

Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, dalam stadium general-nya menegaskan bahwa politik adalah soal momentum dan kesempatan. Ia mendorong perempuan untuk berani mengambil peran dan memaksimalkan peluang yang ada.
“Perempuan harus berani mengambil peluang. Momentum itu tidak datang dua kali, dan ketika kesempatan hadir, harus dimaksimalkan dengan kapasitas dan kerja nyata,” ujarnya.
Ia juga menyoroti besarnya kontribusi perempuan dalam sektor ekonomi, khususnya UMKM, yang didominasi oleh perempuan. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa perempuan memiliki potensi besar tidak hanya di sektor ekonomi, tetapi juga dalam kebijakan publik.
Kegiatan ini kemudian ditutup secara resmi oleh Wakil Menteri Perdagangan RI, disertai harapan agar seluruh peserta mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dan terus berkontribusi dalam pembangunan daerah maupun nasional. (why)

