SMPN 2 Puncu Asah Kemampuan Akademik Siswa Lewat Kompetisi Literasi dan Numerasi

Kediri, Nusantaradigital.online – SMP Negeri 2 Puncu, Kabupaten Kediri, terus memperkuat budaya belajar dan kemampuan akademik siswa melalui kegiatan kokurikuler. Salah satunya diwujudkan lewat Kompetisi Literasi dan Numerasi bertema “Jelajah Literasi dan Numerasi: Gagasan dan Data Menuju Karya”.

Kompetisi yang diikuti 85 siswa perwakilan kelas VII, VIII, dan IX tersebut tidak sekadar menjadi ajang adu pengetahuan. Kegiatan ini juga dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, ketelitian, kecepatan memahami persoalan, serta keberanian siswa dalam menyampaikan jawaban.

Kepala SMPN 2 Puncu, Drs. Agus Sutjahtjo, M.Pd., mengatakan kompetisi tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah menggali potensi akademik sekaligus membangun semangat belajar peserta didik.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan semangat belajar, meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi, serta melatih siswa agar mampu berpikir kritis, teliti, dan cepat dalam menyelesaikan persoalan. Kami berharap anak-anak tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Agus, Selasa (27/10/2026).

Menurut Agus, literasi dan numerasi menjadi fondasi penting dalam pembelajaran. Kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mencakup kecakapan memahami informasi, mengolah data, menarik kesimpulan, hingga mengambil keputusan.

Kompetisi berlangsung dalam dua tahapan. Pada babak penyisihan, peserta mengikuti tes tertulis di kelas dengan materi dari empat mata pelajaran, yakni Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Matematika, dan Bahasa Indonesia.

Dari tahap tersebut, dipilih tiga peserta terbaik dari masing-masing jenjang kelas untuk melaju ke babak final. Total sembilan siswa kemudian diuji melalui tes lisan dengan pertanyaan yang dibacakan langsung oleh dewan juri dari unsur guru.

Pada babak final, peserta dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu menyimak pertanyaan, memahami persoalan, dan memberikan jawaban secara cepat serta tepat.

Persaingan berlangsung antusias hingga akhirnya panitia menetapkan para juara di setiap jenjang.

Untuk kelas VII, juara pertama diraih Sava Kanza Sakhi Khafidzoh dari kelas 7B. Posisi kedua ditempati Arifin Tri Wardani dari kelas 7E, sedangkan juara ketiga diraih Chika Avira Faneza dari kelas 7C.

Pada jenjang kelas VIII, Zanuar Tri Ananda dari kelas 8D berhasil meraih juara pertama. Valentina Dwi Rahma dari kelas 8B menempati posisi kedua, disusul Dinny Aliyah Azizah dari kelas 8E sebagai juara ketiga.

Sementara itu, pada kelas IX, Cantik Mar’atus Sholihah dari kelas 9B keluar sebagai juara pertama. Mochammad Rizky Fernando dari kelas 9C meraih juara kedua, sedangkan Meyke Septi Kirana dari kelas 9C menempati posisi ketiga.

Dari hasil keseluruhan kompetisi, Cantik Mar’atus Sholihah ditetapkan sebagai Juara Umum 1. Juara Umum 2 diraih Mochammad Rizky Fernando, sedangkan posisi Juara Umum 3 ditempati Sava Kanza Sakhi Khafidzoh.

Agus menilai hasil kompetisi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi sekolah untuk memetakan kemampuan sekaligus potensi akademik siswa. Peserta yang menunjukkan kemampuan menonjol diharapkan mendapat pembinaan lebih lanjut agar dapat berkembang dan berprestasi di tingkat yang lebih tinggi.

“Kami berharap siswa yang memiliki potensi dapat terus dibina dan dikembangkan, sehingga ke depan mampu bersaing dalam berbagai kompetisi akademik, termasuk Olimpiade Sains Nasional atau OSN. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana seluruh siswa memiliki keberanian untuk mencoba, semangat untuk belajar, dan kemauan untuk terus meningkatkan kemampuan,” imbuhnya.

Melalui kegiatan bertema “Gagasan dan Data Menuju Karya” ini, SMPN 2 Puncu ingin mendorong siswa menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan kemampuan menganalisis informasi, mengolah data, menyusun gagasan, dan memecahkan persoalan.

Sekolah berharap kompetisi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau perlombaan semata, tetapi menjadi bagian dari pembentukan budaya belajar yang berkelanjutan. Dengan demikian, semakin banyak siswa yang berani mengembangkan potensi, berpikir kritis, dan berkompetisi secara sehat. (dw)

By why hum

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights